Pengalaman Operasi Epilepsi

Pengalaman Operasi Epilepsiby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi EpilepsiSiapa sih yang tidak tahu epilepsi? Orang sering menyebutnya dengan ayan. Siapa saja bisa terserang ayan, yaitu kondisi dimana otak saraf pusat terganggu. Banyak faktor yang bisa menyebabkan terjadinya epilepsi, salah satunya adalah faktor genetik atau keturunan. Demam tinggi pada bayi yang bisa menyebabkan kejang-kejang juga bisa menjadi faktor pemicu. Jika kejang pada bayi lebih […]
08988234527 Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Siapa sih yang tidak tahu epilepsi? Orang sering menyebutnya dengan ayan. Siapa saja bisa terserang ayan, yaitu kondisi dimana otak saraf pusat terganggu. Banyak faktor yang bisa menyebabkan terjadinya epilepsi, salah satunya adalah faktor genetik atau keturunan.

Demam tinggi pada bayi yang bisa menyebabkan kejang-kejang juga bisa menjadi faktor pemicu. Jika kejang pada bayi lebih 10 menit, maka bisa memicu gangguan saraf pusat. Hal tersebut karena masa pertumbuhan pada bayi, dimana jaringan otak masih dalam masa tumbuh dan berkembang, sehingga jika terjadi kejang yang cukup lama, bisa mengganggu perkembangan saraf bayi tersebut. Tentu berbeda dengan orang yang sudah dewasa, dimana pertumbuhan otaknya sudah maksimal.

pengalaman operasi epilepsi

Pengertian Epilepsi

Epilepsi adalah penyakit yang terjadi karena adanya gangguan sistem saraf pusat, yang bisa menyebabkan penderitanya mengalami kejang-kejang secara tiba-tiba hingga hilang kesadarannya. Biasanya, terjadinya kejang-kejang pada penderita epilepsi dipicu oleh mental yang sedang lemah, marah, kelelahan otak untuk berpikir atau banyak memikirkan sesuatu.

ODE (orang dengan epilepsi) sering kali mengalami kejadian kejang-kejang tak terduga hingga 5-10 kali dalam sebulan jika tanpa terapi dan atau pengobatan yang tepat. Jika mengkonsumsi obat anti epilepsi secara teratur, maka gangguan kejang bisa dikendalikan atau diminimalisir.

Gejala Epilepsi

Beberapa gejala epilepsi atau ayan, secara umum antara lain:

  • Penderita akan mengalami kejang-kejang secara tiba-tiba.
  • Keseimbangan tiba-tiba hilang dan terjatuh.
  • Keluar air liur atau berbusa dari mulutnya.
  • Bagian tubuh, baik tangan dan kaki kesemutan hingga kaku.
  • Meracau dan anggota tubuh bergerak tak beraturan.

Penyebab Epilepsi

Ada banyak faktor yang bisa memicu penyakit epilepsi. Diantaranya:

  • Ketika kecil pernah mengalami panas tinggi dan kejang-kejang (orang sering menyebutnya step).
  • Terjadi infeksi otak.
  • Radang sumsum tulang belakang.
  • Faktor genetik, atau bawaan lahir. Biasanya memiliki riwayat keluarga penderita epilepsi.
  • Cedera kepala, akibat dari kecelakaan, kekerasan, dan sebagainya.
  • Stroke atau penyakit pembuluh darah.

Gambar Epilepsi

eeg epilepsi
gambar epilepsi

Pengobatan Epilepsi

Dokter akan melakukan diagnosa dan mendengarkan keluhan dari ODE (orang dengan epilepsi) secara seksama. Jika masih dalam tahap awal dan tidak berbahaya, penggunaan obat epilepsi akan sangat efektif untuk mengatasi dan mengendalikan kejang bagi penderita epilepsi.

Tetapi dari beberapa kasus, sekitar 30% ODE tidak mempan terhadap obat-obatan, dan atau tidak kuat terhadap efek samping dari obat epilepsi yang dikonsumsi secara terus menerus, dan mengakibatkan badan gemetaran, sering sakit kepala, gelisah, gatal-gatal, dan sebagainya.

Tindakan operasi adalah langkah terakhir untuk mengatasi epilepsi, jika ODE dalam kondisi:

  • Mengalami kejang tak terkendali meski sudah konsumsi obat epilepsi secara teratur.
  • Timbul gejala lain seperti tumor otak, stroke, atau kelainan pada pembuluh darah.

Penatakaksanaan operasi epilepsi yang paling sering diterapkan, antara lain:

  1. Resective surgery yaitu prosedur operasi untuk mengangkat sedikit area otak yang memicu kejang.
  1. Corpus callosotomy, seringkali diterapkan pada anak-anak yang menderita kejang parah. Prosedur operasi dilakukan dengan cara memotong jaringan saraf yang menjadi penyebab kejang.
  2. Hemispherectomy, prosedur operasi untuk mengangkat lapisan luar otak baik di kanan maupun kiri otak. Biasanya prosedur operasi ini diterapkan pada anak-anak yang mengalami kejang parah.

Meski memiliki risiko yang tinggi, jika ditangani oleh dokter yang berpengalaman dengan fasilitas yang memadai, tingkat keberhasilan dari operasi epilepsi tergolong sangat tinggi, hingga mencapai 90%. Kebanyakan pasien sudah tidak mengalami kejang pasca operasi epilepsi dilakukan. Jikalau pun terjadi kejang, maka frekuensinya sangat berkurang atau bahkan sangat jarang.

Pengobatan Epilepsi Di Penang

Penang, Malaysia mempunyai beberapa rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap dan berkelas untuk menangani berbagai penyakit. Termasuk epilepsi, dimana ada fasilitas khusus saraf yang bisa melakukan pengobatan epilepsi.

Pengobatan yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Terapi obat-obatan biasanya akan sukses untuk mencegah terjadinya kejang pada ODE (orang dengan epilepsi), apabila frekuensi kejang tidak berlangsung lama.

Operasi epilepsi akan dilakukan sebagai langkah terakhir apabila terapi obat-obatan tidak dapat mengatasi kondisi pasien dan ada risiko yang lebih besar apabila tidak dilakukan tindakan operasi dengan segera.

Operasi Epilepsi Penang

Tindakan operasi epilepsi di Penang akan dilakukan jika terapi obat-obatan sudah tidak dapat mengatasi masalah kejang pada penderita atau bisa memicu penyakit lain seperti tumor otak atau stroke pada penderitanya. Beberapa rumah sakit yang memiliki fasilitas khusus saraf di Penang antara lain:

  1. Rumah Sakit Island Hospital Penang.
  2. Pantai Hospital Penang.
  3. Loh Guan Lye Specialist Centre Penang.
  4. Gleneagles Penang.

Biaya operasi epilepsi di Penang pada beberapa rumah sakit di atas berkisar antara 70-150 juta, belum termasuk kamar rawat inap. Biaya rawat inap termurah mulai dari 300 RM atau sekitar 1 juta rupiah. Dan untuk kelas VIP mulai dari 1000-1500 RM.

Karena tergolong operasi besar, pemulihan pasca operasi epilepsi lebih lama, sehingga pasien diwajibkan menjalani rawat inap antara 5-10 hari tergantung kondisi setiap pasien. Jadi, jika ingin melakukan pengobatan epilepsi di Penang, harus menyediakan biaya 50% lebih besar dari biaya perkiraan.

Biaya Operasi Epilepsi Di Semarang

Ada beberapa rumah sakit di Semarang yang dapat menangani penyakit epilepsi, antara lain:

SMC RS Telogorejo, Semarang. Biaya operasi epilepsi berkisar antara 6-30 juta rupiah. Rumah sakit ini pun menerima pasien dengan BPJS Kesehatan.

Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi (RSUPK), menetapkan biaya operasi epilepsi sekitar 10-70 juta rupiah.

Perlu diketahui bahwa, tidak semua pasien epilepsi yang telah sudah menjalani tindakan operasi bisa sembuh total, tetapi frekuensi kejang akan sangat minim dan hanya sebentar. Berdasarkan data dunia penyakit epilepsi, hanya sekitar 70% pasien yang sembuh total dan bebas kejang, dan sekitar 10% pasien tak dapat sembuh setelah operasi epilepsi.

Kisah Nyata Penderita Epilepsi dan Pengalaman Operasi Epilepsi

Kisah nyata dari penderita epilepsi yang menajalani operasi epilepsi ini diceritakan oleh Satini. Perempuan berusia 24 tahun, berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah, yang sejak kecil sudah mengidap epilepsi.

Kata Ibunya, Tini ketika berusia 3 tahun mengalami panas tinggi dan kejang, orang Jawa sering menyebutnya kena step. Mungkin bagi anak kecil, terkena step sudah hal yang biasa. Tetapi 2 tahun berselang ketika Tini sudah sekolah TK, epilepsi pertamanya menyerang. Kejadiannya pas di sekolah, awalnya muka Tini berkeringat dan tangan bergerak tak beraturan dan dalam diam, seluruh tubuhnya bergerak ke arah kiri, dari mata, bibir, tangan dan kaki, dan kemudian secara bersamaan mengalami kejang, hingga keluar air liur dari mulutnya.

Tini memang sudah tidak bisa mengingat banyak kejadian masa kecilnya. Memori yang masih tersimpan ketika sudah menginjak masa sekolah SMP. Karena sering kejang-kejang secara tiba-tiba, Tini pun diberikan obat epilepsi (ayan) dari klinik agar diminum secara teratur untuk mengurangi gejala epilepsi. Memang terbukti setelah rutin minum obat, serangan mendadak epilepsi jarang terjadi, paling hanya 1-2 kali dalam sebulan, dibanding sebelum minum obat epilepsi yang bisa terjadi 6 kali dalam sebulan.

Namun demikian, kejang yang tiba-tiba dari epilepsi itu sangat mengganggu, karena Tini dalam kesehariannya adalah pelajar dan karena itu Ia sering dijauhi teman-temannya. Bahkan pada tahun 2018 lalu, Tini sudah menyelesaikan studi S1 nya di salah satu Universitas di Purwokerto.

Ketika sedang berkendara, menggunakan sepeda motor untuk mengirim lamaran kerja, serangan epilepsi secara mendadak menyerangnya, sehingga Ia pun terjatuh seketika di tengah jalan dan tak sadarkan diri. Kemudian Ia dibawa ke rumah sakit umum Wonosobo.

Kecelakaan tunggal yang dialami Tini tak membahayakan nyawanya, hanya luka-luka lecet di kaki dan tangannya. Ketika sadar Tini pun menceritakan kejadiannya kepada keluarga dan dokter yang memeriksanya. Saat itulah dokter memberikan rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi (RSDK), Semarang untuk dilakukan pemeriksaan secara mendetail keadaan epilepsinya dan dokter pun mengatakan bahwa epilepsi bisa disembuhkan, sehingga timbul rasa semangat untuk pergi ke dokter di Semarang.

Dua minggu kemudian setelah luka-luka akibat kecelakaannya sembuh, Tini dan keluarganya pun pergi ke rumah sakit Kariadi di Semarang untuk konsultasi tentang epilepsi yang diderita Tini. Setelah sampai di rumah sakit tersebut, Tini kemudian bertemu dengan dokter, Tini pun diperiksa secara seksama di ruang EEG (electroencephalogram). Yaitu ruang pemeriksaan untuk mengetahui aktivitas otak.

Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa epilepsi yang menyerang Tini sangat rumit untuk dioperasi, karena berada di area otak depan kanan dimana di area tersebut banyak sekali syaraf-syaraf otak yang mengontrol tubuh, termasuk tangan dan kaki. Karena risiko yang sangat besar, dokter pun menganjurkan Tini untuk diperiksa di Jakarta yang memiliki fasilitas lebih lengkap untuk memberikan keyakinan dokter sebelum melakukan operasi.

Sesuai dengan surat rujukan dari dokter, kemudian Tini pun bertolak ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan. Hasilnya pun sama, bahwa pusat serangan epilepsi memang berada di otak depan sebelah kanan, kemudian Tini pun kembali ke RSDK di Semarang untuk memberikan hasil EEG dari Jakarta. Kemudian dokter pun langsung menjadwalkan untuk dilakukan operasi epilepsi 3 hari kemudian.

Sehari sebelum operasi, Tini sudah mengurus kamar rawat inap, guna melakukan pemeriksaan pendahuluan. Karena tidak ditemukan masalah gula darah, tensi yang normal, dan berat badan seimbang, Tini pun disuruh perawat untuk berpuasa dari sore hingga pagi hari waktu operasi tiba.

Pada pagi hari sekitar jam 6, Tini pun duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat menuju ruang operasi. Dengan perasaan yang was-was karena diketahui operasi ini sangat berisiko tinggi, Ia pun berpasrah dan banyak berdoa. Kemudian Ia pun di tensi dan ditimbang kembali, lalu berganti pakaian operasi yang tipis dan longgar.

Jam 7 pagi, operasi pun dilakukan dan Tini dibius total. Operasi epilepsi tergolong operasi besar yang rumit, hingga pukul 4 sore, Tini baru keluar dari ruang operasi dalam keadaan tak sadarkan diri, dan sempat dibawa ke ruang ICU untuk memasang berbagai alat bantu. Sehari kemudian, Tini pun dibawa ke kamar rawat inap.

Pasca operasi epilepsi, ketika Tini sadar kepalanya terasa sangat sakit seperti mau pecah, Ia sering menangis, dan terus minum obat yang sangat banyak hingga Ia lebih banyak tidur. Setiap hari di kamar inap Tini terus mengeluh rasa sakit yang luar biasa, hingga di hari ke lima, Ia pun meminta ijin untuk pulang agar dirawat jalan. Dokter pun mengijinkan dengan syarat harus kontrol dokter 2 minggu sekali. Tini pun menyetujuinya dan bergegas pulang, meski kepala masih terasa sakit. Ia pun berjalan di papah oleh orang tuanya menuju kursi roda.

Pengalaman Sembuh Dari Epilepsi

Seminggu Tini di rumah, pasca operasi epilepsi dan pulang dari rumah sakit Ia harus terus meminum obat pereda nyeri dan obat epilepsi secara rutin. Sakit kepalanya pun kadang reda dan kadang kambuh. Dokter menyarankan untuk terus meminum obat selama 6 bulan agar epilepsi bisa sembuh total.

Ketika sudah satu bulan meminum obat, rasa bosan untuk meminum obat pun timbul, sehingga Ia berhenti untuk meminum obat, sehari kemudian kejang-kejang pun tiba-tiba menderanya. Dan pelajaran berharga pun di dapatnya, agar Ia tetap mengindahkan anjuran dokternya.

Dua bulan pertama pasca operasi, Tini kontrol ke dokter setiap dua minggu, dan setelah dua bulan Ia hanya kontrol sebulan sekali untuk mendapatkan resep obat-obatan. Hingga 5 bulan berikutnya, pasca kejadian kejang tiba-tiba yang menyerangnya karena tidak minum obat, Ia pun terus mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai yang dianjurkan.

Kini Tini tak pernah mengalami kejang-kejang epilepsi lagi. Pada kontrol terakhir, pasca operasi epilepsi, Tini mengalami perkembangan yang bagus dan dinyatakan sembuh dari epilepsi.

Pantangan Penderita Epilepsi

Ada beberapa pantangan penderita epilepsi yang harus dihindari, antara lain:

  • Kurangi makanan yang mengandung tinggi gula seperti roti, es krim, dan sebagainya.
  • Hindari makanan olahan yang terlalu banyak MSG.
  • Jangan makan-makanan yang mengandung kolesterol tinggi seperti daging merah dan seafood.
  • Jangan stress dan terlalu banyak pikiran.
  • Jangan terlalu lelah dalam beraktivitas, istirahat yang cukup.

Ciri-ciri Sembuh Dari Epilepsi

Beberapa ciri-ciri sembuh dari epilepsi antara lain:

  • Tidak pernah mengalami kejang.
  • Suasana hati tetap stabil.
  • Tidak ada perubahan perilaku.

Penyebab Epilepsi Kambuh Saat Tidur

Epilepsi dapat kambuh kapan saja dan tak terduga. Tetapi pada kasus tertentu gejala epilepsi ringan hanya kambuh ketika sedang tidur. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Mimpi buruk saat tidur.
  • Terlalu banyak pikiran sesaat ketika hendak tidur.
  • Posisi tidur kurang nyaman.

Efek Samping Operasi Epilepsi

Karena memiliki risiko tinggi terkait saraf otak yang mengatur tubuh dalam segala dari pikiran hingga organ tubuh. Beberapa efek samping operasi epilepsi yang bisa saja terjadi, diantara:

  1. Daya ingat lemah atau terganggu.
  2. Perubahan perilaku atau suasana hati yang tiba-tiba.
  3. Depresi.
  4. Gangguan penglihatan.

Meski jarang terjadi, tetapi jika ada kesalahan teknis karena malpraktek atau persiapan permulaan yang kurang, sehingga bisa saja menimbulkan berbagai efek samping di atas.

Pencegahan Epilepsi

Pencegahan epilepsi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  • Terapi obat anti epilepsi secara teratur.
  • Menerapkan pola hidup sehat.
  • Lebih relax dan santai, jangan terlalu lelah dalam berpikir.
  • Hindari minuman ber alkohol.
  • Olahraga secara teratur, karena tubuh sehat akan menunjang kesehatan mental.

Labels:

epilepsi

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi Tumor Otak
  2. Pengalaman Operasi GERD : Pengalaman Operasi Lambung
  3. Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudara
  4. Pengalaman Operasi FESS : Operasi Sinusitis
  5. Pengalaman Operasi HNP : Operasi Syaraf Kejepit
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia