Pengalaman Operasi Hipertrofi Konka Hidung

Pengalaman Operasi Hipertrofi Konka Hidungby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi Hipertrofi Konka HidungHidung tersumbat mungkin hampir setiap orang sudah pernah merasakannya. Namun apa jadinya jika sumbatan hidung tersebut tak kunjung sembuh, meski telah minum obat flu hingga bertahun-tahun, dan bahkan menimbulkan berbagai gejala turunan seperti nyeri di wajah, pusing, demam, dan sebagainya. Bisa jadi itu adalah gejala hipertrofi konka hidung. Konka adalah organ yang berada dibagian dalam […]
08988234527 Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Hidung tersumbat mungkin hampir setiap orang sudah pernah merasakannya. Namun apa jadinya jika sumbatan hidung tersebut tak kunjung sembuh, meski telah minum obat flu hingga bertahun-tahun, dan bahkan menimbulkan berbagai gejala turunan seperti nyeri di wajah, pusing, demam, dan sebagainya. Bisa jadi itu adalah gejala hipertrofi konka hidung.

Konka adalah organ yang berada dibagian dalam hidung yang mengatur temperatur dan kelembaban udara. Ketika terjadi pembengkakan konka, maka saluran hidung terhambat sehingga menimbulkan berbagai gejala.

Jika Anda mengalami nyeri di dahi atau sekitar wajah berasa tertarik, hidung tersumbat menahun, bahkan pusing dan mata ikut sakit, baca ulasan tentang pengalaman operasi hipertrofi konka hidung dan kemudian segeralah ke dokter spesialis THT untuk memeriksakan kondisi Anda!

Pengalaman Operasi Hipertrofi Konka Hidung

Pengertian Hipertrofi Konka Hidung

Konka hidung adalah susunan tulang yang berada di sisi rongga hidung, yang sedikit menonjol ke dalam saluran pernapasan. Bentuk dari konka hidung hampir mirip dengan kulit kerang, karena adanya gelombang dari tulang tersebut. Tulang konka dilapisi dengan daging yang mengandung sinusoid (darah).

Hipertrofi konka adalah pembesaran konka inferior yang bisa terjadi karena alergi atau non alergi. Sehingga terjadi penebalan pada struktur tulang konka tersebut yang berada di rongga hidung. Jika terjadi pembesaran maka akan menimbulkan berbagai gejala seperti penyumbatan hidung, perubahan suara, dan sebagainya.

Konka Hiperemis Adalah ?

Konka hiperemis merujuk pada kondisi dimana terjadi penebalan pada dinding rongga hidung akibat dari alergi. Sehingga menimbulkan gejala seperti mual dan muntah. Jika tak ditangani dengan benar maka bisa menyebabkan berbagai komplikasi seperti nyeri wajah, mata seperti mau copot, mual, hingga sakit kepala.

Hipertrofi Konka Nasalis

Nasalis adalah otot sphincter yang berada di hidung yang bisa menekan tulang rawan hidung untuk menutup atau membuka lubang hidung untuk mencegah masuknya air ke dalam hidung. Jadi, hipertrofi konka nasalis adalah kondisi dimana terjadi penebalan atau pembengkakan pada otot dan tulang konka yang menyebabkan penyempitan pada rongga hidung sehingga aliran udara tersumbat.

Konka nasalis juga membantu hidung dalam memproduksi lendir untuk membersihkan kotoran atau bakteri yang akan masuk ke paru-paru melalui rongga hidung, dimana bulu-bulu sebagai penyaring udara, juga dapat mempengaruhi suara yang dihasilkan dari nasofaring (tenggorokan).

Perbedaan Konka Dan Polip

Polip adalah kondisi dimana adanya pertumbuhan daging yang berlebih di area sinus atau rongga hidung. Sedangkan Konka merupakan organ yang berada di dalam rongga hidung yang memiliki fungsi sebagai pengatur kelembaban udara.

Gejala Hipertrofi Konka Hidung

Gejala utama dari hipertrofi konka hidung adalah penyumbatan hidung. Tetapi ada beberapa kasus hipertrofi konka yang mengalami gejala seperti:

  • Pangkal hidung dan wajah terasa nyeri.
  • Sakit kepala yang teramat sangat.
  • Nyeri di dahi karena ada penekanan atau tarikan.
  • Hidung tersumbat yang tak kunjung sembuh.
  • Salah satu rongga hidung tak berfungsi.
  • Sering bersin.
  • Hidung mampet karena berasa disumbat lendir (ingus)
  • Menjadi mudah mimisan.

Penyebab Hipertrofi Konka Hidung

Hipertrofi konka bisa terjadi karena adanya tulang rawan hidung yang bengkok (deviasi septum nasal). Selain itu bisa juga terjadi karena alergi atau dalam kondisi hamil bagi perempuan. Alergi terjadi karena faktor lingkungan yang tidak bersih maupun rhinitis non alergi.

Gambar Hipertrofi Konka Hidung

gambar Hipertrofi Konka Hidung
Operasi Hipertrofi Konka Hidung

Pengobatan Hipertrofi Konka Hidung

Dokter akan melakukan diagnosa anamnesis, pemeriksaan fisik dengan endoskop atau pemeriksaan lanjutan seperti rhinomanometry (rinoskopi anterior dan posterior) dan atau PNIF (peak nasal inspiratory flow). Hasil pemeriksaan tersebut sebagai dasar untuk mengambil langkah pengobatan apa yang akan diterapkan kepada pasien.

Pada umumnya, ada dua metode pengobatan pada penderita hipertrofi konka, yaitu medikamentosa dan tindakan operasi. Metode medikamentosa diterapkan apabila kondisi pasien hipertrofi konka masih dalam tahap wajar, yaitu melalui pemberian obat-obatan seperti antihistamin, dekongestan, kortikosteroid, imonoterapi, dengan maksud untuk memperkecil ukuran konka dan mengurangi gejala yang ditimbulkan.

Jika metode pengobatan medikamentosa tak lagi efektif akibat dari pembengkakan kronik, maka prosedur operasi bisa diterapkan. Tata laksana operasi dilakukan untuk mereduksi ukuran konka menggunakan radiofrekuensi (RF), dengan bedah minimal.

Metode operasi lainnya yang bisa diterapkan seperti ablasi termal, bedah beku reseksi turbinasi (konka), dan mikrodebrider, yang hanya membutuhkan waktu pemulihan cepat karena hanya dilakukan bedah mikro invasif.

Biaya Operasi Konka Hipertrofi Hidung

Operasi konka hipertrofi hidung termasuk operasi kecil yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan, jadi Anda bisa memanfaatkan kartu BPJS yang masih aktif untuk melakukan perawatan, pengobatan, dan operasi konka hipertrofi di rumah sakit yang telah sudah bekersajama dengan BPJS. Tentu saja Anda harus mengikuti prosedur rujukan berjenjang.

Jika belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, maka Anda bisa mengurusnya ke kantor BPJS Kesehatan terdekat yang ada di setiap kabupaten/kota, dengan membawa persyaratan seperti KTP, Kartu Keluarga, dan buku tabungan.

Biaya operasi konka hipertrofi hidung di rumah sakit swasta tanpa menggunakan BPJS Kesehatan berkisar antara 5-12 juta rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk biaya pemeriksaan pendahuluan, obat-obatan dan rawat inap.

Pengalaman Operasi Hipertrofi Konka Hidung

Ini adalah cerita pengalaman operasi hiptertrofi konka hidung yang pernah dialami oleh Ibu Diah, di tahun 2018, pada rumah sakit umum daerah, di kabupaten Banyumas.

Cerita bermula ketika Ibu Diah mengalami sakit kepala dan nyeri wajah yang teramat sangat secara tiba-tiba, tanpa diketahui penyebabnya. Sehingga ia diantar suaminya untuk pergi ke rumah sakit menuju poli saraf, karena ditakutkan ada sesuatu di kepalanya.

Setelah mendapat giliran periksa, dokter pun menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan MRI, dan setelah hasilnya keluar, dokter mengatakan bahwa tak ada kelainan apapun di saraf otak ibu Diah. Kemudian dokter pun menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dengan melakukan rontgen.

Ke esokan harinya, Ibu Diah pun mengikuti saran dokter, dan kembali ke rumah sakit untuk dilakukan rontgen. Menunggu 2 jam, hasil foto rontgen pun keluar, dan setelah dokter melihat hasil foto rontgen, dokter malah menyarankan untuk pergi ke poli THT, karena ada kemungkinan masalah di area hidung.

Meski poli THT hanya terpisah beberapa ruangan dari poli saraf, tetapi tak bisa se enaknya masuk dan periksa, karena harus mengikuti prosedur administrasi dan nomor antrian. Sehingga Ibu Diah berniat untuk kembali esok hari.

Seperti yang telah direncanakan, Ibu Diah yang diantar suaminya pun kembali ke rumah sakit dan kali ini menuju poli THT. Tiba gilirannya, Ibu Diah pun bercerita gejala dan pemeriksaan awal MRI dan rontgen di kepalanya, dan kemudian dokter spesialis THT pun melakukan pemeriksaan fisik dengan endoskop yang dimasukan ke rongga hidung, dan hasilnya ditemukan adanya hipertrofi konka.

Memang sangat aneh, bukan penyumbatan hidung seperti pada penderita hipertrofi konka pada umumnya, tetapi gejala ibu Diah diawali dengan sakit kepala yang hebat secara tiba-tiba. Dokter pun sedikit bingung, tetapi itu adalah faktanya. Kemudian dokter pun meresepkan obat dekongestan, pereda nyeri, paracetamol, dan anti inflamasi agar meredakan gejala hipertrofi konka yang dialami Ibu Diah.

Tiga hari kemudian barulah ada rasa sesak napas karena ada penyempitan rongga hidung akibat sumbatan pembesaran konka. Meski sudah minum obat hingga habis, gejala tak juga reda, masih sering sakit kepala dan ditambah sesak nafas ketika tidur, sehingga ibu Diah pun kembali ke rumah sakit untuk menemui dokter spesialis THT kembali.

Karena gejalanya makin mengganggu dan tak kunjung sembuh, dokter spesialis THT pun menyarankan untuk dilakukan operasi hipertrofi konka dengan metode RF (radiofrekuensi) dengan sayatan mikro sehingga tidak butuh waktu lama, dan pemulihannya lebih cepat. Meski tetap ada rasa takut, dan setelah diskusi dengan suaminya, Ibu Diah pun setuju unuk operasi demi kesembuhannya.

Sebagai pemeriksaan pendahuluan sebelum operasi, dokter memberi surat rujukan untuk pemeriksaan EKG dan pemeriksaan darah di laboratorium, serta CT Scan agar citra hidung lebih terlihat dengan jelas. Suster pun menyuruh suami ibu Diah untuk mengurus administrasi kamar rawat inap, sehari sebelum operasi dilakukan.

Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, dan tak ditemukan kelainan, maka dokter menjadwalkan untuk melakukan operasi hipertrofi konka dua hari kemudian. Dan sesuai instruksi perawat, besoknya Ibu Diah dan suaminya pun kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan kamar rawat inap, sekaligus membawa tas yang berisi pakaian ganti.

Pada malam hari, tepat jam 10 malam, Ibu Diah diperintah untuk puasa hingga esok hari. Dan pagi harinya, suster pun membawa sabun antiseptik dan menyuruh Ibu Diah mandi menggunakan sabun tersebut agar bersih dan terhindar dari bakteri sebelum operasi.

Setelah selesai mandi, suster pun membawa Ibu Diah dengan kursi roda menuju ruang persiapan operasi, dan kemudian menyuruh mengganti pakaian ibu Diah dengan pakaian operasi, serta melakukan tensi di lengan kirinya.

Dibawalah Ibu Diah ke kasur operasi dan disana ada 4 orang dokter yang sangat ramah, yang sempat menanyakan tentang kondisi ibu Diah, dan beberapa saat kemudian Ibu Diah tertidur pulas ketika operasi dilakukan.

Pasca Operasi Konka Hidung Hipertrofi

Setelah 2 jam pasca operasi, Ibu Diah terbangun, karena suster membangunkannya, dan ketika membuka mata, matanya berkunang-kunang dengan tenggorokan yang terasa kering dan sakit sekali. Ia masih di kasur ruang persiapan operasi, dan sesaat kemudian, suster membawanya ke kamar rawat inap, dan suaminya masih setia menunggunya keluar dari ruang operasi.

Operasi konka hidung hipertrofi ibu Diah berjalan lancar, dan hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit, dengan bius total. Ibu Diah diharuskan untuk menginap hingga efek bius sudah hilang sepenuhnya. Pada malam hari benar-benar tak bisa tidur karena hidung dipenuhi tampon, sehingga memaksanya bernafas menggunakan mulut yang mengakibatkan mulut selalu terbuka dan sangat cepat kering.

Pagi hari jam 7, suster sudah datang dan membuka tampon yang menyumbat hidung, dengan serta merta keluarlah darah kental dari hidung, suster pun membersihkan dengan cermat dan mengatakan kalau darah ini adalah sisa-sisa bekas operasi, jadi sudah hal yang wajar. Kemudian suster pun mengajari cara membersihkan hidung dengan cairan NaCl agar steril dengan kapas secara perlahan, yang harus dilakukan setiap hari.

Dengan rasa yang masih tak karuan, jam 9 pagi, dokter mengijinkan Ibu Diah untuk pulang dan melakukan perawatan di rumah, dan menyuruhnya untuk kembali kontrol setelah satu minggu.

Ketika di rumah, rasa sakit di tenggorokan sudah mulai reda, dan hanya memakan bubur dan sup ayam saja hampir 5 hari berturut-turut karena, dan seminggu pasca operasi konka hidung hipertrofi, Ibu Diah kembali ke dokter untuk check up keadaan hidungnya.

Sembuh Dari Hipertrofi Konka

Pada kontrol pertama pasca operasi konka hidung hipertrofi, kondisi konka sudah membaik tak ada penebalan dan pembengkakan, sehingga dokter mengatakan jika sampai minggu depan sudah tak ada keluhan apapun, maka tak perlu datang kembali untuk kontrol dokter.

Setelah 10 hari di rumah, hidung ibu Diah sudah kembali berfungsi dengan normal, tak ada keluhan seperti sebelumnya, rasa sakit kepala dan hidung tersumbat sudah benar-benar hilang, dan Ibu Diah sangat bersyukur bisa sembuh dari hipertrofi konka dengan melakukan operasi.

Efek Samping Operasi Konka Hidung

Dari beberapa kasus operasi konka hidung, ada laporan dari para pasien pasca operasi yang mendapati efek samping operasi konka hidung, antara lain:

  • Kekambuhan hipertrofi konka.
  • Terjadinya infeksi pada bekas sayatan.
  • Pembengkakan hidung.
  • Penyumbatan hidung.
  • Sangat mudah mimisan.

Pencegahan Hipertrofi Konka Hidung

Dokter menganjurkan beberapa tindakan baik untuk pencegahan atau penderita yang mengalami hipertrofi konka hidung untuk melakukan beberapa hal, antara lain:

  • Untuk meringankan gejala, hidup uap dari air panas. Caranya taruh air panas di baskom kemudian hirup uapnya.
  • Sering berendam air hangat agar badan terasa hangat.
  • Gunakan pelembab ruangan.
  • Jaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar dari debu, bulu, dan kotoran lainnya.
  • Selalu kenakan masker ketika keluar rumah.
  • Rajinlah berolahraga dan juga istirahat yang cukup.
  • Perbanyak makan buah dan sayuran.

Labels:

biaya operasi konka hipertrofi, konkha hidung

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi Deviasi Septum
  2. Pengalaman Operasi FESS : Operasi Sinusitis
  3. Pengalaman Operasi Gendang Telinga
  4. Pengalaman Operasi Amandel
  5. Pengalaman Operasi OMSK
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Related Posts