Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudara

Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudaraby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses PayudaraPerjuangan seorang ibu membesarkan anaknya memang lah sungguh berat. Dari mulai masa kehamilan yang berat, masa melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, dan masa menyusui yang juga ada ancaman mastitis atau abses payudara akibat infeksi bakteri. Mastitis merupakan infeksi payudara yang paling sering menyerang ibu pada masa menyusui, yang ditandai dengan benjolan, memerah akibat peradangan, dan menimbulkan […]
08988234527 Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Perjuangan seorang ibu membesarkan anaknya memang lah sungguh berat. Dari mulai masa kehamilan yang berat, masa melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, dan masa menyusui yang juga ada ancaman mastitis atau abses payudara akibat infeksi bakteri.

Mastitis merupakan infeksi payudara yang paling sering menyerang ibu pada masa menyusui, yang ditandai dengan benjolan, memerah akibat peradangan, dan menimbulkan rasa nyeri yang teramat sangat, karena benjolan tersebut mengandung nanah. Bagaimana cara mengatasi mastitis? Yuk baca terus lanjutan artikel ini, ada pula pengalaman operasi mastitis atau operasi abses payudara yang bisa memberikan gambaran, bagaimana proses operasi mastitis dilakukan.

Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudara

Pengertian Mastitis

Mastitis adalah infeksi payudara, yang disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui puting payudara. Hal tersebut terjadi karena ketidaksempurnaan pengosongan ASI ketika sedang menyusui, sehingga terdapat rongga dalam payudara yang lembab atau karena peradangan akibat ASI tak dikeluarkan saat produksi ASI telah penuh, sehingga membuat payudara membengkak dan terjadi abses payudara.

Perbedaan Mastitis Dan Abses Payudara

Abses payudara adalah komplikasi dari mastitis. Bakteri yang masuk melalui puting dari mulut bayi yang biasanya melukai puting mengakibatkan benjolan karena terjadi infeksi. Semakin lama kondisi infeksi dibiarkan, maka menjadi mastitis kronis, yang kemudian terjadi peradangan sehingga nanah menumpuk di rongga payudara, dan kondisi tersebut disebut abses payudara.

Gejala Mastitis

Ada berbagai gejala ketika terjadi mastitis. Ciri utamanya adalah pembengkakan payudara yang berwarna kemerahan yang mengakibatkan rasa nyeri. Biasanya ciri utama mastitis tersebut disertai gejala lainnya seperti:

  • Demam dan menggigil.
  • Tubuh mudah lelah dan lemas.
  • Rasa mual dan ingin muntah.
  • Di bagian benjolan keluar cairan nanah.
  • Kelenjar getah bening membesar di sekitar leher dan atau ketiak.

Penyebab Mastitis

Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab mastitis, antara lain:

  • Penggunaan bra berkawat yang melukai payudara.
  • Ada tindikan di puting payudara.
  • Bakteri yang masuk melalui mulut bayi ketika menyusui.
  • Cedera pada payudara.
  • Efek samping dari radioterapi.
  • Teknik menyusui yang salah.
  • Efek dari operasi di sekitar payudara yang pernah dijalani.

Gambar Mastitis

gambar mastitis
operasi abses payudara

Pengobatan Mastitis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada payudara pasien untuk melihat kelainan. Sesi wawancara juga diperlukan untuk menganalisa gejala yang ditimbulkan. Sebagai pertolongan pertama, dokter akan memberikan resep obat antibiotik untuk membunuh bakteri yang menjadi penyebab mastitis, dan memberikan obat pereda nyeri untuk mengurangi gejala mastitis.

Jika dalam kurun waktu 5-7 hari setelah pengobatan dan gejala mastitis terus berlanjut yang ditandai dengan benjolan yang membesar dan meradang, maka tindakan operasi insisi harus segera ditegakkan. Jika diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG, Mammografi, Biopsi dan MRI.

Antibiotik Untuk Mastitis

Antibiotik berjenis tablet atau kapsul tergolong sebagai obat keras, sehingga tidak bisa dibeli secara bebas di apotek tanpa menggunakan resep dokter. Namun demikian, ada antibiotik untuk mastitis yang berbentuk salep yang bisa didapatkan di apotek terdekat seperti:

  • Scanderma Plus, harga sekitar 30-40 ribu.
  • Bevalex, harga sekitar 20-30 ribu.
  • Bioplacenton, harga sekitar 20-25 ribu.

Kenapa Mastitis Tidak Kunjung Sembuh

Mastitis yang tidak ditangani dengan segera akan mengakibatkan abses payudara dimana terjadi penumpukan nanah di dalam payudara. Kondisi tersebut sudah sangat kronis, sehingga obat-obatan antibiotik sudah tidak akan mampu membunuh bakteri yang sudah berkembang cepat.

Faktor lain seperti kurangnya kebersihan juga bisa menyebabkan mastitis tidak kunjung sembuh. Jika kondisi mastitis terus berlanjut, segeralah untuk berkonsultasi ke dokter spesialis bedah untuk membersihkan nanah pada abses payudara yang menimbulkan nyeri akibat dari peradangan.

Ciri Ciri Mastitis Akan Sembuh

Beberapa ciri mastitis akan sembuh antara lain:

  • Gejala nyeri sudah sangat jauh berkurang.
  • Payudara tidak memerah dan tidak nyeri ketika disentuh.
  • Benjolan di payudara akibat mastitis mengecil atau menyusut.
  • Tidak ada gejala lainnya yang ditimbulkan.

Apakah Mastitis Dapat Menyebabkan Kanker

Penyebab kanker payudara hingga saat ini tidak diketahui secara pasti. Jadi, jawaban atas pertanyaan apakah mastitis dapat menyebabkan kanker adalah tidak dapat dikonfirmasi.

Kanker payudara pada awalnya memang tak menimbulkan gejala apapun, tetapi pada stadium lanjut, gejala kanker payudara mirip mastitis yaitu menimbulkan rasa nyeri di payudara, bengkak, dan penderitanya menjadi mudah lelah.

Biaya Operasi Mastitis dengan BPJS

Peserta BPJS Kesehatan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dari mulai tindakan pencegahan, pengobatan, hingga operasi. Termasuk biaya operasi mastitis akan ditanggung oleh BPJS, jika dilakukan di rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan BPJS.

Biaya Operasi Mastitis Di Rumah Sakit Swasta Di Indonesia

Operasi mastitis tergolong operasi kecil yang hanya memerlukan insisi atau sayatan mikro kurang dari 3 cm. Operasi jenis ini biasanya dapat dilakukan di setiap rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah dengan dukungan fasilitas cukup hingga sedang. Beberapa rumah sakit swasta yang bisa menjadi rujukan soal biaya operasi mastitis antara lain:

  • Rumah Sakit Umum Santa Maria, Pemalang. Menetapkan biaya operasi mastitis sekitar 2-5 juta rupiah.
  • Rumah Sakit Advent, Bandung. Memberikan kisaran biaya operasi mastitis sekitar 4-7 juta rupiah.
  • RSI Sultan Agung Semarang, Jawa Tengah. Memperkirakan biaya operasi mastitis sebesar 3-6 juta rupiah.

Biaya Operasi Mastitis di Penang

Hampir semua rumah sakit umum di Penang dapat menangani dan melayani operasi mastitis. Biaya operasi mastitis di Penang, pada rumah sakit seperti Gleneagles, Island Hospital, atau Loh Guan Lye, diperkirakan memakan biaya sekitar RM 1000-3000 atau sekitar 3,5-10 juta rupiah.

Biaya tersebut hanya untuk tindakan sekali operasi nya saja, tidak termasuk dengan pemeriksaan lanjutan seperti Mammografi, CT Scan, USG, Patologi dan MRI, jika dicurigai mastitis mengakibatkan berbagai komplikasi lain.

Biaya Operasi Mastitis di Singapura

Biaya operasi mastitis di Singapura sangat beragam. National University Hospital of Singapore menetapkan biaya termurah untuk operasi mastitis diantara rumah sakit lainnya yang ada di Singapura. Rumah sakit tersebut menetapkan biaya operasi mastitis sekitar S$500-$1500 atau sekitar 5-15 juta rupiah.

Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudara

Cerita pengalaman operasi mastitis atau operasi abses payudara ini dikisahkan oleh Ibu Novia, ketika sedang menyusui anak keduanya, di tahun 2017 yang lalu, di salah satu rumah sakit di Tangerang.

Awal mulanya sekitar pertengahan Agustus 2017, muncul benjolan di payudara kanan yang menyebabkan nyeri, tentu saya panik dong, karena memang saya sering konsumsi junk food dan makanan yang gurih-gurih, takutnya benjolan itu tanda gejala kanker payudara. Apalagi waktu itu saya masih dalam proses menyapih anak kedua saya.

Suami pun ikut khawatir, dan kemudian ia pun googling mencari tahu tentang benjolan di payudara kanan saya itu. Baca-baca tentang tumor atau kanker payudara kan tidak terasa nyeri, sedikit melegakan sehingga sampai dua minggu benjolan kecil itu pun saya biarkan, karena mungkin karena di gigit serangga atau apa.

Bukan makin menghilang atau membaik, benjolan itu malah memerah dan sedikit membesar, tambah khawatir lah karena nyeri juga semakin saya rasakan, dengan ditemani suami, saya segera pergi ke Puskesmas untuk periksa kondisi benjolan di payudara saya ini.

Dokter di Puskesmas malah hanya menduga-duga, mungkin karena masih muda dan bisa saja dokter magang, jadinya saya minta rujukan untuk periksa ke rumah sakit, karena punya kartu BPJS jadi bisa dimanfaatkan untuk menghemat biaya. Karena antrian BPJS di rumah sakit biasanya sangat padat, saya pun memutuskan esok pagi saja biar dapat antrian pertama.

Benar saja, suami saya suruh ambil nomor antrian jam 6 pagi, sehingga ketika rumah sakit buka jam 8, saya baru datang dan bisa langsung mendapat giliran di awal. Saya dirujuk ke poli kandungan, spesialis laktasi.

Setelah benjolan di payudara kanan saya diperiksa, dokter spesialis tersebut mengatakan bahwa saya terkena mastitis yang sudah parah. Lebih lanjut dokter menerangkan bahwa mastitis itu adalah peradangan payudara akibat infeksi bakteri yang masuk melalui puting, dimana ibu Novi yang sedang menyapih, terdapat rongga dalam payudara karena ASI yang sudah dipompa tidak keluar secara sempurna sehingga dalam rongga tersebut disarangi bakteri karena lembab, jadilah infeksi mastitis. Terang dokter, sambil menuliskan resep.

Saya kemudian diberikan resep antibiotik dan pereda nyeri, hanya untuk seminggu saja, sampai obat habis. Jika obat tersebut tak mempan atau tak meredakan mastitis, maka saya akan dirujuk ke dokter bedah untuk dilakukan operasi insisi.

Saya pulang dengan harapan bisa sembuh dengan obat yang diresepkan dokter. Saya antri kembali di apotek rumah sakit, menyerahkan resep dokter dan menunggu obat diberikan. Hingga jam 11 siang baru saya bisa pulang membawa obat.

Benar saja, seminggu berlalu kondisi benjolan malah semakin melebar dan memerah dan terasa sangat nyeri, saya pun bergegas ke rumah sakit kembali menemui dokter spesialis laktasi tersebut, dan langsung saja saya di rujuk ke dokter bedah.

Ketemu lah dengan dokter bedah, dan saya masih berharap agar ada solusi selain operasi. Karena takut dan saya juga harus menjaga kedua anak saya yang masih kecil, dan kedua juga masih dalam proses menyapih. Dokter pun kemudian memeriksa payudara saya, dan ia hanya geleng-geleng kepala, lalu mengatakan ini harus sudah langsung operasi tanpa ada pemeriksaan USG lagi.

Dengan pertimbangan anak, dokter pun akan melakukan operasi dengan sayatan minimal agar saya bisa langsung pulang esok harinya pasca operasi. Sebelum itu, saya disuruh ke dokter spesialis anestesi, dan membicarakan tentang alergi yang pernah saya alami, dan sebagainya. Disepakati lah bahwa saya hanya akan menggunakan anestesi lokal agar bisa cepat pulih dan pulang untuk merawat anak-anak saya.

Operasi mastitis pun akan dilakukan esok hari jam 1 siang, jadi suster menyuruh saya besok sebelum jam 11 siang sudah harus mengurus kamar rawat inap. Besoknya suami mengurus kamar, dan dapat lah kamar kelas 1 sesuai dengan iuran yang suami bayarkan ke BPJS.

Jam 12 siang saya disuruh mandi dengan sabun antiseptik, dan suster pun menyodorkan baju operasi agar langsung dikenakan tanpa pakaian dalam. Kemudian, dengan kursi roda, saya di dorong menuju ruang operasi. Sesaat sebelumnya dokter pun sudah mulai berdatangan dan sedikit berbincang, lalu saya disuruh berbaring di meja operasi yang keras, disuruh miring dan disuntik anestesi lokal, dan dokter pun mencubit-cubit bagian payudara yang akan dioperasi sambil tanya apa sakit. Tak terasa dan seperti mati rasa.

Operasi pun dilakukan, saya hanya disuruh melihat ke atas atau memejamkan mata saja, payudara hanya terasa di gesek-gesek tanpa ada reaksi apapun, dokter saling berbicara lirih satu sama lain, ketika melakukan operasi, kadang hening, hanya suara logam yang diletakkan di nampan.

Operasi berjalan sekitar 1,5 jam, tanpa terasa saya pun terlelap dan tertidur hingga 2 jam, dan setelah saya terbangun, saya dibawa ke kamar rawat inap, dimana suami tercinta sudah menunggui saya dengan rasa cemas dan haru.

Pemulihan Pasca Operasi Abses Payudara dan Perawatan Pasca Operasi Mastitis

Sehari menjalani rawat inap pasca operasi mastitis, dengan perasaan yang sedikit lega, karena bukan rasa nyeri benjolan yang saya rasakan, tetapi nyeri karena bekas sayatan operasi yang sudah ditutup tampon.

Saya masih belum boleh banyak bergerak oleh perawat sehingga selama hampir seharian saya masih terbujur di ranjang tanpa gerakan yang tiba-tiba. Jadi jikalau bergerak pun harus sangat pelan dan hati-hati.

Hari berikutnya, saya sudah di ijinkan untuk pulang oleh dokter, karena harus mengurusi kedua anak saya yang masih balita. Saya sudah bisa berjalan sendiri meski masih sangat pelan, dan suami selalu setia mendampingi setiap saat ketika dibutuhkan.

Seminggu masa pemulihan pasca operasi abses payudara di rumah, yang kebanyakan istirahat karena suami sudah melakukan semuanya, saya hanya menyusui anak kedua saya, dan hanya melakukan pekerjaan ringan saja seperti menyapu lantai, dan kegiatan bersih-bersih ringan saja, karena saya masih dilarang untuk melakukan hal-berat atau angkat-angkat barang.

Perawatan Luka Pasca Operasi Mastitis

Perawat pun memberitahukan cara perawatan pasca operasi mastitis agar bisa dilakukan dirumah, antara lain:

  • Selalu menjaga kebersihan, sementara tidak boleh menggunakan bra.
  • Mengkompres luka bekas sayatan dengan air hangat.
  • Memastikan area bekas sayatan kering dan bersih.
  • Mengoleskan salep antibiotik yang sudah diresepkan dokter.
  • Menutup kembali luka dengan tampon, jika banyak bergerak, tetapi jika istirahat, lebih baik dibiarkan terbuka barang sebentar agar mendapat angin, sehingga luka lebih cepat kering.
  • Minum obat-obatan yang diresepkan dokter secara teratur.

Cara Membersihkan Nanah Pada Abses Payudara

Berikut cara membersihkan nanah pada abses payudara:

  1. Sediakan air hangat.
  2. Gunakan kain yang bersih, atau sterilkan kain dengan air panas.
  3. Celupkan kain ke air hangat, peras, dan gunakan untuk membersihkan abses payudara.
  4. Jangan mengeluarkan paksa nanah dengan memencetnya.
  5. Air hangat juga dapat memperlancar aliran ASI.
  6. Setelah area abses payudara bersih, pastikan untuk mengeringkannya dengan kain atau kapas.
  7. Oleskan salep antibiotik pada abses payudara.

Salep antibiotik dapat dibeli di apotik dengan harga yang bervariasi antara 10-50 ribu per tube. Bersihkan nanah pada abses payudara dengan langkah tersebut di atas setiap 6 jam sekali.

Bolehkah Menyusui Setelah Operasi Mastitis

Biasanya, mastitis hanya menyerang salah satu payudara saja, sehingga menurut dokter, ibu menyusui masih diperbolehkan menyusui menggunakan payudara lainnya setelah operasi mastitis dilakukan.

Komplikasi Mastitis

Komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari mastitis, antara lain:

Terjadinya Abses Payudara

yaitu rasa nyeri akibat dari munculnya nanah di payudara. Harus dilakukan insisi untuk membersihkan nanah akibat infeksi tersebut.

Tumbuhnya Jamur di Area Payudara

Efek samping dari salep atau obat antibiotik adalah memicu tumbuhnya jamur, yang bisa menyebabkan puting terasa nyeri panas dan juga nyeri. Jika ini terjadi, tentu akan berimbas pada bayi yang sedang disusui, dimulut bayi akan ada bercak kemerahan atau bercak putih.

Ada Benjolan Setelah Operasi Mastitis

Kekambuhan mastitis bisa saja terjadi akibat dari kurangnya kebersihan pasca operasi mastitis, sehingga infeksi kembali terjadi. Bakteri bisa masuk melalui luka bekas sayatan dan juga dari puting payudara.

Mastitis Pecah Sendiri

Jika mastitis sudah sangat kronis, akan nampak seperti bisul. Ada kemungkinan mastitis pecah sendiri, tetapi jarang terjadi karena penderita pasti akan mengalami rasa nyeri yang hebat. Jika sudah memerah dan memberikan gejala nyeri, segerakanlah untuk mengunjungi dokter terdekat.

Pencegahan Mastitis

Mastitis terjadi karena infeksi pada payudara. Berikut cara pencegahan mastitis:

  • Untuk meningkatkan aliran ASI, pastikan untuk selalu membersihkan payudara dengan air hangat.
  • Terapkan posisi berbeda setiap kali menyusui, dengan payudara secara bergantian.
  • Agar payudara tidak bengkak, pastikan untuk mengosongkan payudara seluruhnya, sehingga tidak ada sumbatan saluran ASI.
  • Jangan gunakan sabun untuk bersihkan puting.
  • Lakukan pemijatan di area payudara secara rutin.
  • Jangan gunakan bra yang ketat dan berkawat.
  • Jangan sampai menindik puting karena risiko infeksi sangat besar.
  • Cukupkan vitamin, mineral dengan banyak makan sayuran dan jangan lupa minum air putih yang banyak agar terhindar dari dehidrasi.

Labels:

abses payudara bolehkah menyusui, biaya operasi mastitis payudara, harga oprasi mastitis di ra bandung

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi FAM : Cerita Pengalaman Fibroadenoma Mammae
  2. Pengalaman Operasi Mammae Aberans
  3. Pengalaman Operasi Tendon Achilles : Operasi Achilles Tendinitis
  4. Pengalaman Operasi Wasir : Operasi Ambeien
  5. Pengalaman Operasi Tulang Belakang
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Related Posts