Pengalaman Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis

Pengalaman Operasi UDT : Operasi Penurunan Testisby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi UDT : Operasi Penurunan TestisSeringkali seorang ibu yang baru melahirkan dan memiliki bayi lakio-laki baru menyadari bahwa pada buah zakar bayi laki-lakinya tidak ada testis atau biji yang seharunya berada disana, ketika usia bayi laki-laki sudah lebih dari satu bulan. Kelaianan itu disebut UDT atau Undesensus Testis, dimana testis gagal untuk turun ke skrotum (buah zakar), dari pul bawah […]
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Seringkali seorang ibu yang baru melahirkan dan memiliki bayi lakio-laki baru menyadari bahwa pada buah zakar bayi laki-lakinya tidak ada testis atau biji yang seharunya berada disana, ketika usia bayi laki-laki sudah lebih dari satu bulan.

Kelaianan itu disebut UDT atau Undesensus Testis, dimana testis gagal untuk turun ke skrotum (buah zakar), dari pul bawah ginjal, sehingga menyebabkan skrotum hanya terisi satu testis atau bahkan tak ada keduanya. Testis bisa berada di mana saja di bagian perut atau lipat paha. Kasus UDT terjadi sekitar 1 dari 25 bayi laki-laki yang lahir prematur.

Lalu bagaimana mengobati UDT? Yuk simak penjelasan lengkap tentang UDT berikut! Adapula kisah pengalaman operasi UDT atau operasi penurunan testis yang bisa memberi gambaran tentang proses operasi UDT, biaya operasi UDT dan sebagainya.

Pengalaman operasi UDT Operasi Penurunan Testis

Pengertian UDT

UDT atau disebut juga Kriptorkidismus adalah kondisi dimana satu atau dua buah zakar tidak berada di skrotum (kantong zakar). Kegagalan turunnya buah zakar ke skrotum terjadi pada fase kedua kehamilan atau usia kandungan menginjak 7 bulan.

Pada usia kandungan 7 bulan, buah zakar pada bayi laki-laki sudah terbentuk dan seharusnya testis tersebut akan turun secara bertahap melalui saluran inguinal menuju skrotum. Keterlambatan penurunan testis tersebut mengakibatkan testis tidak berada di posisi seharunya, bisa tetap di saluran inguinal atau hanya berada di pangkal paha.

Fungsi testis adalah menghasilkan hormon testosteron. Jika posisi testis tidak berada di tempat seharusnya maka akan terjadi kerusakan pada testis tersebut, yang bisa menyebabkan ketidakmampuan testis untuk memproduksi hormon.

Gejala UDT

Karena tidak ada gejala yang spesifik untuk kasus UDT, sehingga seringkali bayi laki-laki dengan kelainan UDT terdeteksi terlambat. Jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut, UDT bisa menyebabkan produksi sperma ketika sudah dewasa maka akan terganggu, dan bisa juga menyebabkan keganasan testis pada anak-anak.

Penyebab Undescended Testis Adalah

Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab undescended testis, antara lain:

  • Bayi lahir prematur (sebelum 37 minggu).
  • Berat badan bayi rendah ketika dilahirkan.
  • Faktor genetik, dimana memiliki riwayat UDT dalam keluarga.
  • Ibu hamil memiliki penyakit seperti diabetes, dan sebagainya.
  • Konsumsi alkohol ketika ibu mengandung.
  • Paparan zat kimia selama kehamilan.

Gambar UDT

Gambar UDT penurunan testis

Pengobatan UDT

Dokter akan melakukan anamnesis fisik. Ketika usia bayi masih dibawah 6 bulan, maka dokter akan memberikan waktu hingga bayi berusia 6 bulan. Dalam masa tunggu itu, ada kemungkinan testis yang berada di area inguinal atau lainnya bisa turun dan ke posisi yang seharusnya.

Dalam masa tunggu tersebut, dokter akan melakukan observasi setiap 1-3 bulan. Jika tak ada perubahan dan testis tak turun menempati posisi seharunya hingga bayi berusia 6 bulan, dokter akan menganjurkan dilakukan pembedahan paling cepat ketika bayi berusia 6 bulan, dan paling lambat pada usia bayi 1,5 tahun.

Metode operasi UDT yang umum dilakukan adalah Orchidopexy atau Orkidofunikolisis dengan pendekatan inguinal dan atau skrotal. Tingkat keberhasilan operasi UDT dengan metode tersebut berkisar di angka 88%-100%. Pemeriksaan pendahuluan sebelum operasi, dokter akan melakukan deteksi laparoskopi untuk mengetahui posisi pasti testis.

Testis Bayi Turun Sebelah

Jika testis bayi turun sebelah, ibu jangan langsung panik karena bayi dibawah usia 6 bulan masih mungkin untuk secara spontan testis turun dari saluran inguinal ke kantong zakar. Kondisi tersebut disebut Undescended Testis (UDT).

Segerakanlah untuk mengunjungi dokter spesialis urologi anak agar dapat di observasi dengan baik, dan mendapatkan penanganan yang tepat. Operasi penurunan testis akan ditegakkan apabila usia bayi sudah melewati 6 bulan tetapi posisi testis tidak berada di skrotum.

Biaya Operasi UDT

Biaya operasi UDT sangat beragam, setiap rumah sakit menentukan harga yang berbeda-beda tergantung tingkat kesulitan pembedahan, karena posisi testis setiap bayi akan berbeda-beda. Tingkat keberhasilan operasi UDT dengan metode Orchidopexy sangat tinggi, karena peralatan kedokteran yang canggih meminimalisir risiko yang mungkin akan ditimbulkan. Berikut referensi biaya operasi UDT di rumah sakit dalam maupun luar negeri.

Biaya Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis Dengan BPJS

Operasi penurunan testis dengan BPJS sangat bisa dilakukan, karena undescended testis merupakan kelainan bawaan sehingga BPJS akan menanggung biaya operasi UDT sepenuhnya, termasuk rawat inap, rawat jalan, dan obat-obatan selama masa pemulihan.

Peserta hanya wajib mengikuti aturan yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan, seperti aturan rujukan berjenjang, melunasi seluruh tunggakan iuran BPJS, serta membawa persyaratan ketika berobat, seperti foto kopi kartu BPJS dan fotokopi KTP.

Biaya Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis Di Rumah Sakit Swasta Di Indonesia

Operasi testis tidak turun di Jakarta Selatan bisa dilakukan di Rumah Sakit Siloam Hospitals Asri. Biaya operasi UDT di rumah sakit tersebut mulai dari 37 juta rupiah. Biaya tersebut belum termasuk rawat inap, pemeriksaan lanjutan, konsultasi, peralatan ICU jika digunakan, obat-obatan dan sebagainya.

Sedikit lebih murah jika operasi penurunan testis dilakukan di rumah sakit Hermina Purwokerto misalnya. Biaya operasi UDT di Hermina Hospitals berkisar antara 20-30 juta rupiah. Biaya tersebut hanya untuk biaya tindakan operasinya saja.

Biaya Operasi Orchidopexy

Orchidopexy adalah tindakan operasi penurunan testis ke kantung zakar. Pembentukan testis berada di perut bayi ketika masih dalam kandungan. Umumnya testis akan menurun secara bertahap menuju skrotum pada minggu ke 35 kehamilan.

Biaya operasi Orchidopexy di rumah sakit swasta berkisar antara 20-40 juta rupiah. Tingkat keberhasilan operasi Orchidopexy sangat tinggi, dengan meminimalkan risiko. Operasi Orchidopexy dilakukan kurang lebih 45 menit dengan anestesi umum.

Biaya Operasi Kriptorkismus

Kriptorkismus atau undescended testis’ yang berarti testis tidak turun atau berada di skrotum. Bisa satu testis atau keduanya tak turun. Biaya operasi kriptorkismus bisa ditanggung oleh asuransi swasta maupun asuransi BPJS Kesehatan.

Jika operasi kriptorkismus dilakukan di rumah sakit swasta, maka Anda harus menyiapkan dana sekitar 20 juta hingga 40 juta rupiah. Setiap rumah sakit swasta menetapkan biaya operasi penurunan testis berbeda-beda, tergantung kesulitan posisi testis berada.

Biaya Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis Di Singapura

Jika Anda menginginkan mendapatkan penanganan penurunan testis bayi Anda yang bertaraf internasional, Anda bisa membawa putra Anda untuk melakukan operasi penurunan testis di Singapura.

Biaya operasi UDT di beberapa rumah sakit di Singapura tidak berbeda jauh. Di Gleneagles Medical Centre misalnya, mereka menetapkan biaya operasi UDT mulai dari S$ 5000 atau 50 juta rupiah. Biaya tersebut hanya untuk tindakan operasinya saja, belum termasuk biaya lain-lain yang dibutuhkan. Jadi, setidaknya dibutuhkan biaya minimal 70-100 juta rupiah untuk bisa melakukan operasi penurunan testis di Singapura.

Biaya Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis Di Penang

Dokter spesialis urology terbaik di Malaysia yang dapat melakukan operasi penurunan testis di Penang berpraktek di beberapa rumah sakit, antara lain Dr. Lau Ban Eng, di Loh Guan Lye Hospital, Dr. Timothy Khor, di Gleneagles Hospital Penang, Dr. S Sritharan, di Island Hospital Penang.

Biaya operasi UDT di Penang berkisar antara RM 10.000-RM20.000 (35-70 juta rupiah). Perkiraan biaya tersebut tidak termasuk biaya lain-lain seperti perawatan, konsultasi, rawat inap, pemeriksaan pendukung, dan sebagainya.

Pengalaman Operasi UDT : Operasi Penurunan Testis

Kisah pengalaman operasi UDT atau operasi penurunan testis ini diceritakan oleh Ibu Mutia, yang dialami anak keduanya, dimana salah satu testisnya tidak berada pada kantung zakar. Operasi UDT tersebut dilakukan pada tahun 2016, di rumah sakit umum daerah Cirebon.

Pada awal tahun 2016, anak kedua saya lahir dengan selamat berjenis kelamin laki-laki, meski saya melahirkan secara prematur, sehingga bobot nya kurang lebih 1,4 kilogram, sehingga harus dimasukkan ke inkubator agar suhu tubuhnya tetap terjaga.

operasi penurunan testis

Seminggu di inkubator, bayi saya sehat dan kami pun di ijinkan pulang oleh dokter yang menangani. Berat badan bayi saya naik secara signifikan dalam waktu satu bulan selama masa menyusui di rumah.

Waktu itu saya pun belum paham akan adanya kelainan testis karena kantong skrotumnya memang normal, dan saya pun tak begitu memperhatikan ketika memandikan atau membersihkan pup nya. Saya pun kemudian membawanya untuk imunisasi hepatitis B ketika usia bayi saya sudah 2 bulan, karena beratnya sudah hampir 3 kilogram. Selain imunisasi, saya pun sekalian periksa kondisi bayi saya ke bidan, untuk memastikan tidak ada masalah. Bidan pun memeriksa secara seksama, karena mungkin pengalaman tentang bayi prematur, ia pun memegang skrotum dan merabanya, dan ternyata bidan menemukan bahwa testis anak saya hanya ada satu.

Saya pun shock waktu itu, dan ibu bidan tersebut menenangkan saya dengan mengatakan, ibu tak perlu khawatir, karena kondisi ini umum terjadi pada bayi prematur, dimana testis terlambat turun karena memang masih dalam proses pembentukan dalam abdomen. Terang bidan tersebut! Setelah agak tenang, saya pun disuruh menunggu hingga bulan depan, untuk imunisasi lanjutan sekaligus memeriksanya kembali, berharap testis akan turun ke posisi seharusnya.

Seminggu berlalu, saya dan suami pun berdiskusi dan memutuskan untuk ke dokter spesialis untuk mendapatkan informasi testis bayi turun sebelah yang dialami anak saya, sekaligus mendapatkan opini kedua.

Waktu itu jam 5 sore, kami pun pergi ke dokter spesialis anak. Kamai mendapat giliran konsultasi. Dokter pun memeriksa kondisi skrotum anak saya dengan meraba, dan dokter pun mengajak kami duduk. Ternyata apa yang diterangkan dokter hampir sama dengan apa yang dikatakan bidan, sehingga saya sedikit lega.

Tapi kali ini dokter lebih jelas menerangkannya, karena jika sampai usia 6 bulan testis tak berada di posisinya (skrotum) maka jalan yang akan diambil adalah operasi penurunan testis. Saya akan memberikan rujukan ke teman saya di rumah sakit, ia adalah dokter Andi, spesialis urologi. Lanjut dokter tersebut. Saya pun kembali pulang dengan perasaan was-was karena mendengar kata operasi. Tak bisa membayangkan bayi saya di operasi, sangat kasihan.

Satu bulan berlalu, kami pun datang kembali ke bidan untuk imunisasi dan pemeriksaan lanjutan. Tak ada gejala yang timbul kan? Tanya bidan tentang kondisi bayi saya. Saya jawab tidak ada bu, semua tampak normal saja, jawab saya. Ya memang penurunan testis sebelah pada bayi tak menimbulkan gejala, tetapi jika itu dibiarkan kasihan bayinya nanti tak bisa punya anak, ungkap bidan itu menjelaskan.

Hingga usia bayi saya 6 bulan, saya pun kembali ke dokter spesialis anak yang dulu pernah saya datangi dan memeriksakan sekaligus menanyakan tindak lanjut serta meminta rujukan ke dokter spesialis urologi. Saya pun menanyakan tentang biaya operasi UDT ke dokter tersebut. Masalah biaya bisa kok dengan BPJS, jika belum punya ibu segera urus BPJS agar bisa dioperasi dengan tanpa biaya.

Hati saya pun lega, mendengar berita itu, karena selalu kepikiran jika harus operasi dan biayanya sangat mahal bagaimana. Dan esok hari saya dan suami pun pergi ke kantor BPJS untuk mendaftar BPJS, jadi seluruh anggota keluarga harus di daftarkan, syaratnya waktu itu hanya kartu keluarga, KTP, dan buku tabungan yang kesemuanya harus di fotokopi.

Karena harus mendapatkan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat 1 untuk bisa menggunakan BPJS di rumah sakit umum daerah, maka saya pun pergi ke bidan yang memberikan imunisasi anak saya untuk meminta surat rujukan menuju poli urologi di RSUD.

Esok paginya, kami membawa anak saya mengantri di rumah sakit. Setelah dipanggil, kami pun menuju poli urologi, dan kembali mengantri di depan poli. Dokter pun kemudian memeriksa kondisi testis dengan alat laparoskop untuk mendiagnosa posisi testis yang belum turun. Ternyata testis masih ada di perut bagian bawah, karena kemungkinan kecil untuk dapat ke turun ke skrotum dengan sendirinya, maka dokter menganjurkan untuk operasi ketika usia bayi saya 9 bulan. Jadi 3 bulan lagi dari pemeriksaan awal. Sementara saya disuruh menunggu sekaligus berharap agar dapat bisa secara spontan kondisi testis normal.

Tiga bulan berlalu, kami pun kembali ke rumah sakit menuju dokter spesialis urologi. Dokter pun memeriksa kembali dengan alat laparoskop, dan ternyata tidak ada perubahan, testis tetap berada di perut bawah, sehingga akan dilakukan operasi seminggu lagi. Sementara saya harus memeriksakan anak saya ke dokter anestesi, ke laboratorium untuk membawa sampel darah, dan lainnya.

Kurang sehari mau operasi, saya pun sudah mengurus kamar untuk anak saya sebagai persiapan operasi esok hari. Harap harap cemas, suster pun membawa anak saya menuju ruang operasi jam 9 pagi. Dan akhirnya setelah menunggu kurang lebih 1 jam, anak saya pun dibawa keluar dari ruang operasi dalam keadaan tertidur pulas.

Sehari menjalani rawat inap pasca operasi, anak saya sudah diperbolehkan pulang. Meski seharian nangis terus, mungkin karena sakit bekas sayatan operasi, saya pun teratur meminumkan obat yang diresepkan dokter.

Seminggu kemudian pasca operasi, kami pun pergi lagi ke rumah sakit untuk kontrol kondisi testis anak saya, dan hasilnya sangat memuaskan karena operasi berjalan sukses dan dua testisnya sudah berada di skrotumnya.

Efek Samping Operasi Penurunan Testis

Meski kemungkinannya sangat kecil, operasi penurunan testis dapat memberikan efek samping antara lain:

  • Infeksi pada saluran genital.
  • Terjadi kemandulan jika dokter melakukan kesalahan dalam operasi.

Pencegahan UDT

Untuk mencegah terjadinya penurunan testis pada bayi (UDT), maka harus menghindari faktor pemicunya, dengan cara:

  • Menjaga asupan gizi yang cukup ketika masa kehamilan.
  • Tidak terlalu memaksakan beraktivitas ketika usia kehamilan sudah diatas 5 bulan.
  • Selalu kontrol ke dokter untuk mengetahui kondisi perkembangan janin.
  • Menghindari alkohol dan paparan asap rokok selama hamil

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi Hidrokel Anak
  2. Pengalaman Operasi Varikokel
  3. Pengalaman Operasi Hernia
  4. Pengalaman Operasi Miom
  5. Pengalaman Operasi Mastitis : Operasi Abses Payudara
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Related Posts