Pengalaman Operasi Kanker Ovarium

Pengalaman Operasi Kanker Ovariumby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi Kanker OvariumKetakutan bagi banyak para perempuan adalah kanker ovarium yang bisa mematahkan harapan untuk memiliki anak, hingga ancaman nyawa jika tidak tertangani dengan baik. Kuncinya adalah harapan dan semangat secara psikologi harus dibangun, agar tidak stress dan imunitas tubuh bisa terjaga dengan baik. Kanker ovarium bisa menyerang setiap perempuan segala usia, karena berbagai faktor. Terutama jika […]
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Ketakutan bagi banyak para perempuan adalah kanker ovarium yang bisa mematahkan harapan untuk memiliki anak, hingga ancaman nyawa jika tidak tertangani dengan baik. Kuncinya adalah harapan dan semangat secara psikologi harus dibangun, agar tidak stress dan imunitas tubuh bisa terjaga dengan baik.

Kanker ovarium bisa menyerang setiap perempuan segala usia, karena berbagai faktor. Terutama jika memiliki riwayat keluarga yang juga mengidap kanker ovarium, maka di garis keturunannya itu memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena serangan kanker yang sama.

Pengalaman operasi kanker ovarium

Pengertian Kanker Ovarium

Kanker ovarium adalah kanker yang muncul dan tumbuh pada indung telur (ovarium). Terdapat 2 indung telur pada wanita, yaitu di bagian kanan dan kiri rahim. Kanker ovarium paling sering menyerang wanita di usia 30-50 tahun. Ada dua jenis kanker ovarium yaitu epithelial yang tumbuh di permukaan indung telur, dan germinal yang merupakan sel-sel pendukung tumor stroma.

Penyebab Kanker Ovarium

Perubahan gen yang terjadi pada tubuh seseorang bisa menjadi pemicu tumbuhnya sel kanker. Penyebab kanker ovarium sendiri tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor ditengarai bisa menjadi pemicu kanker ovarium, antara lain:

  • Terapi hormon estrogen. Efek samping dari diterapkannya terapi hormon estrogen adalah tumbuhnya sel kanker. Terapi ini biasanya diterapkan dokter ketika wanita sudah memasuki masa menopause. Meski tidak selalu, tetapi bisa menjadi salah satu faktor tumbuhnya sel kanker.
  • Riwayat keluarga. Kanker merupakan salah satu penyakit turunan. Sehingga jika dalam keluarga seseorang pernah mengidap kanker, maka keturunannya memiliki risiko tinggi terkena serangan kanker yang sama.
  • Gaya hidup yang tidak sehat bisa memicu berbagai penyakit, mulai dari obesitas, hipertensi, gagal jantung, paru basah, gagal ginjal, termasuk kanker. Biasanya dipicu oleh makanan yang tidak sehat, alkohol, asap rokok, dan tak pernah melakukan olahraga.
  • Konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang. Terkait dengan kanker ovarium, obat-obatan kontrasepsi atau pil KB, secara terus menerus akan menimbulkan dampak buruk pada ovarium.

Gejala Kanker Ovarium

Pada stadium awal, kanker ovarium seringkali tidak menimbulkan gejala. Ketika sudah memasuki stadium 3 atau stadium 4, baru muncul berbagai gejala, antara lain:

  • Perut kembung, seperti ingin buang angin.
  • Perut membengkak dan terasa sakit.
  • Berat badan menurun secara drastis.
  • Perut terasa mual.
  • Kesulitan buang air besar.
  • Vagina terasa sakit ketika sedang berhubungan intim.
  • Sering buang air kecil.
  • Menstruasi tak menentu.
  • Perdarahan pada vagina.

Gambar Kanker Ovarium

operasi kanker ovarium
gambar kanker ovarium

Pengobatan Kanker Ovarium

Jika kanker ovarium diketahui sejak dini, maka peluang untuk sembuh dari kanker ovarium akan semakin tinggi. Tindakan penanganan yang dilakukan dokter untuk kanker ovarium pada umumnya adalah operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi.

Operasi

Pada stadium awal, mungkin hanya dilakukan pengangkatan salah satu ovarium. Jika kanker pada stadium lanjut yang sudah menyebar ke beberapa organ di sekitarnya. Tindakan operasi pengangkatan bisa dilakukan pada kedua ovarium, rahim, kelenjar getah bening, tuba falopi, dan jaringan lemak perut.

Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan untuk mencegah sel kanker berkembang. Biasanya dilakukan pasca operasi. Kemoterapi adalah pengobatan kanker dengan cairan kimia (obat keras) yang dimasukkan ke dalam aliran darah melalui infus atau injeksi.

Kemoterapi biasanya dilakukan secara bertahap. Jika pada pengobatan stadium lanjut, dalam satu bulan bisa 2 kali atau sebulan sekali. Pengobatan sesuai dengan stadium kanker yang menyerang pasien.

Radioterapi

Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah dengan radioterapi yaitu penyinaran langsung terhadap sel kanker agar tidak berkembang dan mengecil.

Imunoterapi

Untuk menjaga daya tahan tubuh dengan imunoterapi agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi dengan baik melawan sel kanker yang berkembang. Imunoterapi juga diperlukan untuk mengantisipasi efek samping dari kemoterapi dan radiasi yang bisa menurunkan kekebalan tubuh.

Pengalaman Penderita Kanker Ovarium dan Pengalaman Operasi Kanker Ovarium

Ini adalah pengalaman yang dialami oleh Ibu Irma, yang berusia 47 tahun. Gejala awalnya adalah perut terasa sakit seperti maag, yang sering timbul dan sembuh, namun hanya dianggap maag biasa sehingga tidak segera diperiksakan ke dokter.

Pada tahun 2016, gejala perut maag kembali dirasakan lebih sering. Sehingga diperiksakan lah ke dokter umum, dan terdiagnosa tifus. Kemudian diberikan obat dan panas dingin yang dirasakan pun hilang dalam 2 minggu. Tetapi Ibu Irma masih merasa ada sesuatu di perutnya yang tidak beres, karena hingga beberapa bulan kemudian terjadi penurunan berat badan yang drastis.

Gejal lainnya adalah fisik mengalami penurunan stamina yang signifikan, sehingga terasa mudah lelah ketika mengerjakan sesuatu, tidak seperti biasanya. Oleh karena itu, di tahun 2018, Ibu Irma kembali memeriksakan kondisinya di rumah sakit.

Berdasarkan gejalanya, dokter melakukan pemeriksaan USG dan CT Scan, ketika hasilnya keluar, Ibu Irna terdiagnosa kanker ovarium stadium 3b. Dimana kanker sudah menyerang kedua indung telur, dan rahim, sehingga dokter menganjurkan untuk melakukan operasi pengangkatan sel kanker agar tidak berkembang.

Karena belum menjadi peserta BPJS Kesehatan, Ibu Irna kemudian mengurus dan mendaftar BPJS Kesehatan kelas 3 dengan iuran kala itu masih sebesar 25 ribu rupiah, dan setelah membayar iuran, kartu BPJS Ibu Irma pun dicetak, dan langsung bisa digunakan.

Seminggu kemudian, Ibu Irma kembali ke rumah sakit dan menemui dokter yang menanganinya kala itu. Dijadwalkan operasi kanker ovarium segera, dan Ibu Irma kemudian mengurus kamar rawat inap. Kemudian persiapan sebelum operasi, dokter melakukan tes darah CA 125 dan rontgen.

Hari berikutnya, dilakukan lah tindakan operasi. Sejam sebelum operasi, suster menganjurkan untuk berdoa dan shalat taubat agar opersi berjalan lancar dan sukses. Kemudian, operasi dilakukan, dengan anestesi total yang membuat Ibu Irma tak sadarkan diri hingga beberapa jam.

Setelah sadar, Ibu Irma sudah berada di ruang rawat inap yang ketika itu ditunggui suaminya. Nyeri ringan terasa di bekas sayatan melintang di perutnya. Kedua ovarium, rahim, dan tuba falopi pun diangkat, sehingga Ibu Irma sudah tidak memiliki peluang untuk hamil kembali. Rawat inap selama dua hari, kemudian dokter mengijinkan Ibu Irma untuk rawat jalan di rumah.

Pengalaman Kemoterapi Kanker Ovarium

Pasca operasi kanker ovarium, Ibu Irma menjalani kemoterapi sesuai yang dijadwalkan oleh dokter. Setelah dua minggu pasca operasi, Ibu Irma kembali datang untuk menjalani kemoterapi kanker ovarium pertama yang dimulai pada bulan Maret 2018.

Kemoterapi hanya berlangsung 3 jam, dimana Ibu Irma di infus menggunakan cairan kemo, dan setelahnya langsung pulang. Ketika malam pasca kemo, Ibu Irma mengalami mual hebat dan akhirnya muntah-muntah, seluruh makanan pun keluar. Kemudian Ia makan pepaya untuk sekedar isi perut dan beberapa gelas air putih.

Sepuluh hari pasca kemoterapi, alergi pun terjadi, timbul bentol-bentol kecil di beberapa bagian tubuh, dan kemudian Ibu Irma kembali ke dokter. Diberikanlah resep obat oleh dokter, beberapa hari kemudian bentol di tubuh pun menghilang.

Kemudian dilanjutkan kemoterapi ke dua. Gejala lain timbul di hari ketiga, dimana Ia mengalami konstipasi, kesulitan buang air besar karena kekurangan asupan air putih. Hal tersebut bisa diatasinya dengan obat pencahar dan makan buah-buahan.

Sebulan kemudian, kemoterapi ketiga pun dijalaninya. Gejala yang lain muncul, yaitu badan terasa ngilu seluruhnya, pada hari ketiga pasca kemoterapi. Tetapi sudah tidak ada rasa mual. Sehingga Ibu Irma hanya bisa duduk dan berbaring saja, dan kemudian dibawalah ke dokter untuk mendapatkan obat anti nyeri dan seminggu kemudian badan terasa normal kembali.

Bulan berikutnya, kemoterapi ke empat dilakukan. Pasca kemo ke empat ini, gejala yang muncul hampir sama dengan pasca kemo ke-3. Sehingga badan lebih siap dan bisa mengatasinya dengan baik.

Kemoterapi ke 5 kemudian dilakukan pada bulan selanjutnya. Karena merasa sudah terbiasa, akhirnya kurang disiplin dalam hal asupan makanan, sehingga pasca kemo badan ngilu kembali dan mengalami diare, tetapi hal tersebut bisa diatasi dengan obat yang diresepkan dokter.

Kemoterapi ke 6 pun bisa dilakukan sesuai jadwal, bisa berjalan dengan baik meski ada sedikit rasa mual pasca kemo di hari ke tiga. Tetapi dengan banyak konsumsi jus bit, serta rebusan daun sirsak bisa mengatasi masalah tersebut.

Sembuh Dari Kanker Ovarium

Ini adalah cerita dari Zahra yang sudah terdiagnosa kanker ovarium sejak berusia 7 tahun. Zahra memiliki riwayat keluarga yang mengidap kanker ovarium, yaitu dari ibunya sendiri. Gejala awalnya adalah ketika Zahra berusia 7 tahun, tetapi terjadi pendarahan seperti menstruasi, yang disertai rasa nyeri.

Kemudian Zahra pun dibawa ke rumah sakit, dan dilakukan pemeriksaan. Dan dokter umum tersebut menyarankan untuk dibawa ke RSCM, karena dugaan terdapat kanker ovarium. Kemudian Zahra pun dibuatkan rujukan untuk ke RSCM.

Setelah sampai di RSCM, pemeriksaan lanjutan pun dilakukan, yaitu CT Scan dan USG. Setelah hasil pemeriksaan keluar, Zahra dinyatakan mengidap kanker ovarium. Kemudian dokter menyarankan untuk melakukan operasi pengangkatan ovarium segera.

Kemudian operasi pun dilakukan seminggu setelah pemeriksaan awal. Kedua sel telur Zahra harus diangkat untuk mencegah sel kanker berkembang. Kemudian tindakan lanjutan dilakukan, yaitu kemoterapi. Pada kemoterapi ke limanya, kondisi Zahra sempat memburuk karena penurunan imunitas tubuhnya, sehingga membuatnya lemas dan mudah lelah.

Kini, Zahra sudah berusia 20 tahun dan sedang menyelesaikan kuliahnya dengan jurusan pendidikan guru di Jakarta, sembari mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Zahra sembuh dari kanker ovarium yang menderanya dari sejak usia 7 tahun.

Kanker harus dilawan, dan psikis memegang peranan penting agar semangat dalam berjuang terus tumbuh, sehingga imunitas tubuh dapat mempertahankan diri dari serangan sel kanker. Disiplin untuk mengikuti anjuran dokter juga penting, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Kanker Ovarium Bisa Sembuh Total

Peluang untuk sembuh total dari kanker ovarium tetap ada, terutama jika kanker ovarium sudah terdeteksi sejak stadium awal. Sehingga tindakan operasi atau kemoterapi bisa segera dilakukan untuk mencegah tumbuh dan berkembang sel kanker ke organ lainnya.

Jika pada stadium lanjut (stadium 3 dan stadium 4), dimana kanker sudah menyebar, pengangkatan kedua ovarium harus dilakukan, termasuk tuba falopi, rahim, dan kelenjar getah bening. Pada kondisi ini, pasien sudah tidak bisa memiliki keturunan (hamil).

Kanker Ovarium Perut Membesar

Gejala kanker ovarium perut membesar biasanya ketika kanker sudah pada stadium lanjut. Karena tumor ganas bisa membesar dengan cepat hingga berukuran 20 cm, tentu akan membuat perut membesar, yang disertai nyeri hebat serta kesulitan buang air besar, dan juga pendarahan seperti menstruasi.

Kanker Ovarium Bisa Hamil

Pengidap kanker ovarium bisa hamil jika sudah sejak dini kanker tersebut terdeteksi, sehingga tindakan pengangkatan ovarium hanya pada salah satu indung telur, yang berada di sisi kanan dan sisi kiri rahim. Pada kondisi tersebut, penderita masih memiliki peluang untuk hamil, meski hanya memiliki satu indung telur.

Komplikasi Kanker Ovarium

Tindakan operasi kanker ovarium bisa menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani oleh dokter yang tepat dan berpengalaman. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul antara lain:

  • Terjadi infeksi pasca operasi, akibat area sayatan tidak steril dan terjaga.
  • Terjadi perdarahan dalam perut.
  • Konstipasi atau kesulitan buang air besar.
  • Kerusakan jaringan dan organ lainnya.
  • Kanker tumbuh kembali.

Pencegahan Kanker Ovarium

Meski tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya sel kanker ovarium, tetapi setiap wanita dapat melakukan pencegahan dengan tindakan sebagai berikut:

  • Hindari penggunaan obat-obatan kontrasepsi dalam jangka waktu yang lama, karena memiliki efek samping yang bisa memicu terjadinya kanker ovarium.
  • Perbanyak makan sayuran organik yang kaya dengan vitamin A dan vitamin C. Termasuk buah-buahan.
  • Lakukan pemeriksaan secara rutin setiap tahun sebagai tindakan pencegahan, karena sedini mungkin sel kanker terdeteksi, peluang sembuh akan semakin besar.

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi Kanker Usus Besar
  2. Pengalaman Operasi Tiroid : Operasi Kanker Tiroid – Operasi Kelenjar Tiroid – Operasi Kelenjar Gondok
  3. Pengalaman Kanker Tenggorokan
  4. Pengalaman Operasi Tumor Otak
  5. Pengalaman Operasi Kelenjar Getah Bening : Lymphoma / Limfoma
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Related Posts