Pengalaman Operasi Kista Ovarium Endometriosis

Pengalaman Operasi Kista Ovarium Endometriosisby Vivi Tirtaon.Pengalaman Operasi Kista Ovarium EndometriosisSetiap wanita dari usia 12-45 tahun mempunyai risiko terjadinya kista ovarium. Meski tergolong tumor jinak, tetapi bisa menyebabkan berbagai masalah dan gejala yang bisa timbul seperti nyeri perut, kram perut, nyeri pinggul, perut membuncit di bagian bawah, dan sebagainya. Masalah yang bisa ditimbulkan dari kista ovarium endometriosis salah satunya adalah infertilitas atau ketidak suburan. Dalam […]
08988234527 Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Setiap wanita dari usia 12-45 tahun mempunyai risiko terjadinya kista ovarium. Meski tergolong tumor jinak, tetapi bisa menyebabkan berbagai masalah dan gejala yang bisa timbul seperti nyeri perut, kram perut, nyeri pinggul, perut membuncit di bagian bawah, dan sebagainya. Masalah yang bisa ditimbulkan dari kista ovarium endometriosis salah satunya adalah infertilitas atau ketidak suburan.

Dalam banyak kasus, kista ovarium endometriosis bisa pecah dan hilang dengan sendirinya dan sembuh total. Tetapi bisa juga kambuh lagi. Kebanyakan perempuan tidak menyadari sejak awal, karena memang seringkali kista ovarium dengan ukuran yang masih kecil tidak menimbulkan gejala apapun.

pengalaman operasi kista ovarium endometriosis

Pengertian Kista Ovarium Endometriosis

Kista terbentuk karena sel telur yang gagal matang yang berbentuk kantung itu terisi cairan. Endometriosis adalah penebalan jaringan dinding rahim akibat peradangan. Sehingga menimbulkan risiko terbentuknya kista endometriosis. Proses penebalan dinding rahim dimulai ketika ovulasi agar calon janin bisa menempel di dinding rahim. Dan ketika tak terjadi pembuahan maka endometrium akan luruh dan berlanjut ke proses haid.

Kista endometriosis adalah jenis kista yang bisa berbahaya ketika jaringan endometrium tumbuh di ovarium. Ketika semakin membesar bisa membungkus sel ovarium, dan mengakibatkan tidak bisa hamil atau ketika masa kehamilan dan kista semakin membesar bisa menyebabkan keguguran.

Gejala Kista Ovarium Endometriosis

Ketika kista ovarium endometriosis masih berukuran kecil, antara 1-6 cm, seringkali penderita tidak mengalami gejala sama sekali. Tetapi ketika sudah mulai membesar, beberapa gejala umum akan timbul antara lain:

  • Perut terasa nyeri, seperti menstruasi meski belum waktunya datang bulan.
  • Nyeri panggul sedang hingga berat, karena kista ovarium berada di kedua sisi ovarium yang berada di panggul bagian bawah.
  • Menstruasi menjadi sangat nyeri lebih dari biasanya.
  • Nyeri saat bercinta, seringkali timbul masalah nyeri pada organ reproduksi jika peradangan endometriosis meluas.
  • Tidak subur karena pelepasan sel telur normal terhadang endometrioma.
  • Perut buncit dan mengeras.

Penyebab Kista Ovarium Endometriosis

Salah satu penyebab terjadinya kista endometriosis adalah menstruasi retrograde. Yaitu terjadinya aliran balik menstruasi sehingga terjadinya penumpukan darah di ovarium yang pada akhirnya membentuk endometrioma.

Proses pada masa ovulasi, sel telur (ovum) akan dilepas ketika sudah matang menuju tuba fallopi, jika tak ada sprema yang membuahi maka ovum akan luruh bersamaan dinding rahim dengan yang banyak pembuluh darah, sehingga terjadi menstruasi.

Sayangnya tidak ada penelitian yang spesifik tentang bagaimana mencegah menstruasi retrograde (darah menstruasi yang bergerak mundur). Tetapi beberapa faktor yang mungkin menyebabkannya antara lain:

  • Kelebihan berat badan akibat banyaknya kandungan lemak.
  • Makanan berkolesterol dan kandungan MSG.
  • Jarang berolahraga, sehingga kondisi tubuh kurang fit.
  • Nyeri dan kram perut ketika menstruasi, menstruasi tidak terartur serta keluarnya darah haid tidak lancar.

Gambar Kista Ovarium Endometriosis

gambar kista ovarium endometriosis
gambar kista ovarium

Pengobatan Kista Ovarium Endometriosis

Dokter akan mendiagnosa melalui USG untuk mengetahui secara pasti adanya kista ovarium endometriosis dalam perut. Langkah pengobatan tergantung dari besar kecilnya kista dan risiko yang mungkin ditimbulkan.

Beberapa langkah dokter untuk melakukan pengobatan kista ovarium endometriosis antara lain:

  • Meresepkan obat nonsteroid anti inflamasi.
  • Memberikan terapi hormon, agar produksi hormon estrogen terhenti.
  • Jika kista membesar dan atau memiliki risiko yang dapat membahayakan penderita, maka tindakan operasi akan diterapkan. Operasi yang umum untuk mengangkat kista antara lain laparoskopi, laparotomi, dan histerektomi.

Segera lah kunjungi dokter jika Anda mengalami gejala kista ovarium endometriosis seperti nyeri perut secara tiba-tiba, perut membuncit dan mengeras, serta berbagai keluhan lainnya, agar penyakit dapat terdeteksi sejak dini, sehingga akan lebih mudah penanganannya.

Pengalaman Operasi Kista Ovarium Endometriosis

Ini adalah cerita pengalaman operasi kista ovarium endometriosis dari Mirna, seorang mahasiswi semester 6, jurusan sastra Inggris di salah satu universitas di Jakarta.

Kisah Mirna ini dimulai ketika tahun 2017, dimana Ia ketika sedang istirahat kuliah di kantin, merasa sangat mual, nyeri perut yang amat sangat. Ia pun meminum obat haid untuk menghilangkan nyeri perutnya, tetapi sampai habis 2 tablet, sakit itu tak kunjung reda. Sehingga Ia memutuskan pulang dari kampusnya untuk segera istirahat di rumah.

Hingga sore hari, nyeri di perutnya itu belum juga reda, dan Ia pun menyadari ada yang tak beres dengan perutnya, karena ketika tengkurap malah terasa sakit, dan perutnya pun agak buncit dan sedikit keras. Dan ketika malam tiba, sakit sudah mulai reda, hingga Ia pun mengabaikannya hingga beberapa bulan.

Hingga tahun 2018, ketika belum waktunya menstruasi, Mirna kembali merasakan sakit yang luar biasa secara mendadak, lebih sakit dari gejala awalnya. Sampai Ia tak kuat untuk berdiri hingga beberapa jam rasa sakit itu menderanya. Dan ketika sudah mereda, Ia memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya.

Sesampainya di Puskesmas, Ia pun meminta untuk di USG untuk mengetahui ada apa di perutnya, dan dokter pun memberikan rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut yang menuju ke poli kebidanan.

Ke esokan harinya, Ia pun berbekal kartu BPJS dan surat rujukan dari Puskesmas mulai ambil antrian di rumah sakit dan menuju ke Poli Kebidanan. Ketika gilirannya tiba, Ia pun diperiksa dan dilakukan USG. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan ada 2 buah kista yang berada di kanan dan kiri ovarium, yang besarnya antara 7-11 cm.

Dokter pun menganjurkan untuk melakukan operasi pengangkatan kista segera, dan Mirna pun langsung menyetujuinya. Dokter pun menjadwalkan operasi minggu depan, dan Mirna harus menjalani pemeriksaan pendahuluan.

Esok harinya, Mirna kembali datang ke rumah sakit, dan melakukan pemeriksaan gula darah. Hasilnya HB Mirna hanya 8, dan standar operasi adalah 10, sehingga Mirna harus menjalani rawat inap untuk infus darah selama dua hari, yang menghabiskan tiga kantong darah.

Perawat mengatakan ketika akan di infus darah, bahwa BPJS Kesehatan hanya menanggung biaya untuk 1 kantong darah, maka 2 kantong darah sisanya harus ditanggung sendiri oleh Mirna, dan Mirna pun menyanggupinya.

Setelah dua hari rawat inap, tes darah kembali dilakukan dan hasilnya, HB Mirna naik menjadi 11, dan sudah diperbolehkan untuk operasi. Kemudian beberapa tes pendahuluan lainnya seperti rontgen dan juga konsultasi ke dokter anestesi, dan spesialis ginekologi, yang menyebabkan operasi mundur hingga seminggu kedepan.

Operasi akan dilakukan di siang hari sekitar jam 1, sehingga pagi-pagi sekali Mirna datang ke rumah sakit untuk mengurus kamar rawat inap. Dan setelah dapat kamar, perawat kembali mengecek tensi, dan hanya berbaring menunggu operasi di siang harinya. Ketika itu Mirna pun sudah berpuasa sejak pagi hari, hingga tiba waktu operasi tak boleh makan apapun.

Ketika masih kurang setengah jam waktu operasi, perawat membawa Mirna ke ruang persiapan yang sudah ada 2 orang lainnya di ranjang yang sedang menunggu operasi. Dokter pun menanyakan mau di bius antestesi total atau lokal, dan Mirna pun menjawab total aja. Kateter pun di pasang, dan Mirna pun hanya menggunakan pakaian operasi yang sangat tipis.

Tiba waktunya operasi, Mirna hanya ingat ketika akan disuntik bius yang terasa sedikit nyeri di tulang belakangnya, dan beberapa saat kemudian, Mirna sudah tak sadarkan diri ketika operasi kista ovarium endometriosis dilakukan.

Keluarga Mirna sudah menunggu hingga 2 jam di depan ruang operasi dan Mirna pun kemudian dibawa keluar oleh perawat dengan ranjang dorong untuk menuju ke ruang rawat inap. Ketika sadar Mirna sudah bisa tersenyum karena belum merasakan sakit apapun, karena pengaruh bius masih ada.

Pasca Operasi Kista Endometriosis

Setelah beberapa jam, Mirna sudah bisa ketawa tetapi rasa sakit pun kemudian muncul ketika tertawa, perut terasa nyeri, dan sehari kemudian kateter pun di lepas, sehingga Mirna harus berjuang sendiri ke kamar mandi.

Ketika mencoba berdiri, dan berjalan sendiri ke kamar mandi, mual, sangat pusing dan nyeri pun sangat dirasakan Mirna, hingga keluar keringat dingin. Meski demikian, Mirna pun masih bisa tahan dan ke esokan harinya keadannya mulai membaik.

Setelah dua hari di rawat inap, Mirna pun di ijinkan pulang oleh dokter untuk perawatan dan pemulihan pasca operasi kista endometriosis di rumah. Ketika sudah di rumah, Mirna lebih banyak istirahat dan hanya melakukan aktivitas ringan seperti menyapu, membaca, cuci piring, dan semacamnya.

Makanan pun sangat dijaga, tidak makan yang mengandung MSG, makanan bersantan, apalagi nasi padang yang sangat bersantan dan berlemak sangat dihindarinya. Setiap hari konsumsi ikan gabus yang direbus, dan seringkali dibuat sop ikan.

Hingga 3 minggu, luka bekas operasi sudah mulai kering, dan nyeri sudah tidak dirasakannya lagi. Kemudian Mirna pun masih kontrol dokter setiap 2 minggu sekali untuk melihat perkembangan pasca operasi.

Pengalaman Sembuh Dari Kista Endometriosis

Setelah lebih dari satu tahun Mirna hidup dengan kista yang berada di kedua sisi ovariumnya, yang satu sebesar 7 cm di sisi kiri, dan 11 cm di sisi kanan ovarium. Sakit yang teramat sangat sering dirasakannya secara mendadak.

Mirna memang sangat suka makan bakso yang hampir setiap hari, hahkan pernah sehari hanya makan bakso dari siang dan malam hari, dari penjual yang berbeda. Tidak jarang juga makan-makan di restoran cepat saji alias junk food, yang memiliki kandungan lemak dan kolesterol tinggi.

Ketika ngekos waktu kuliah pun mie instan sudah jadi makanannya hampir tiap hari. Selama hidup, Mirna sangat energik dan tak pernah mengeluh sakit, dan tiba-tiba di vonis mengidap kista di kedua ovariumnya, tentu sangat menakutkan, dan khawatir akan hidup dan masa depannya.

Tapi setelah dilakukan operasi pengangkatan kista endometriosis, semua gejala yang pernah menderanya pun sirna. Ternyata operasi tidak menakutkan seperti yang kebanyakan orang bayangkan, bahkan tak ada rasa sedikitpun, karena memang di bius total.

Masa pemulihan pasca operasi memang butuh waktu yang lumayan lama, hampir 3 bulan Mirna bisa beraktivitas seperti sedia kala, dan setelah kontrol dokter untuk kesekian kalinya, dokter menyatakan bahwa kista sudah tidak ada lagi. Sehingga Mirna dinyatakan sembuh dari kista endometriosis.

Pengalaman Operasi Laparatomi Kista

Tindakan operasi yang dilakukan dokter untuk mengangkat kista ada dua jenis yaitu laparoskopi dan laparatomi.

1. Laparoskopi

Tata laksana laparoskopi akan dilakukan apabila kista ovarium masih berukuran kecil. Prosedur laparoskopi hanya membutuhkan sayatan mikro di area pusar, kemudian alat laparoskop dimasukkan yang memiliki kamera kecil di ujungnya agar pencitraan bagian dalam terlihat jelas pada monitor, sehingga dokter bisa secara presisi melakukan pengangkatan kista dengan risiko yang kecil. Proses operasi laparoskopi biasanya kurang dari satu jam dengan masa pemulihan yang cenderung lebih cepat. Tindakan ini juga diperlukan untuk biopsi yaitu mengambil sample sel kista untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium, untuk mengetahui secara pasti adanya sel kanker jinak atau ganas yang bersarang.

2. Laparotomi

Prosedur operasi laparatomi di terapkan dokter apabila kista ovarium sudah berukuran besar dan harus segera diangkat. Tindakan operasi ini memerlukan sayatan yang lebih besar agar dokter dengan mudah mengakses ke area kista ovarium. Biopsi langsung dilakukan pasca pengangkatan kista untuk memeriksa sel kista agar diketahui adanya kanker atau tidak. Proses operasi laparotomi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dengan waktu pemulihan yang lebih lama, antara 6-8 minggu.

Ciri Kista Tumbuh Lagi Setelah Operasi

Beberapa ciri jika terjadi kista tumbuh lagi setelah operasi antara lain:

  • Penderita mengalami keputihan yang tak wajar, dengan bau menyengat.
  • Menstruasi tak teratur, dan disertai nyeri yang teramat sangat.
  • Nyeri perut hingga kram perut secara tiba-tiba.
  • Infertilitas atau tidak subur.

Segera untuk meemeriksakan ke dokter yang telah sudah menangani operasi Anda jika gejala tersebut diatas dialami setelah operasi pengangkatan kista ovarium.

Siklus Menstruasi Setelah Operasi Kista

Jika operasi pengangkatan kista ovarium berjalan lancar, maka siklus menstruasi akan normal antara 20-28 hari sekali. Dan ketika datang menstruasi, rasa nyeri yang ditimbulkan akan normal dan akan reda setelah beberapa saat. Meminum obat atau jamu haid akan sangat membantu meringankan nyeri ketika haid.

Menstruasi Setelah Operasi Kista Endometriosis

Jika dokter menerapkan tindakan terapi hormon atau tindakan histerektomi, yaitu pengangkatan rahim maka wanita tak akan mengalami menstruasi dan tak akan memiliki keturunan. Tetapi jika hanya tindakan operasi laparoskopi atau laparatomi, yang mengangkat kista endometriosis maka siklus menstruasi akan tetap berjalan normal setiap bulannya.

Pantangan Setelah Operasi Kista Endometriosis

Beberapa pantangan setelah operasi kista endometriosis seperti anjuran dokter antara lain:

  • Jangan makan-makanan yang mengandung kolesterol tinggi, seperti daging, udang, kepiting.
  • Jangan melakukan aktivitas berat (angkat beban berat, berlari, olahraga berat) yang bisa membuat luka bekas sayatan terbuka kembali.
  • Jangan gunakan pakaian ketat.
  • Jangan berendam ketika mandi.
  • Hindari berhubungan seksual hingga minimal 3 minggu setelah operasi.

Pengalaman Hamil Dengan Kista Ovarium

Cerita pengalaman hamil dengan kista ovarium dirasakan oleh Shinta, perempuan berusia 30 tahun, ketika masa kehamilan anak keduanya.

Ketika usia kandungan sudah 5 minggu, Shinta bersama suaminya melakukan kontrol dan melakukan USG di dokter langganannya, spesialis kandungan. Ketika di USG, dokter menemukan adanya kista yang sudah berukuran 6 cm. Yang kemungkinan sudah ada sebelum hamil

Dokter pun menjelaskan dengan singkat tentang kondisi kehamilannya. Lebih lanjut dokter mengatakan bahwa kista itu berupa kantung yang berisi cairan gel yang terbentuk karena gagalnya sel telur mencapai kematangan, sehingga kantung tersebut terisi cairan.

Dokter selanjutnya mengatakan harus kontrol setiap bulan untuk mengetahui perkembangan kistanya. Dan dokter menganjurkan untuk menjaga makanan yang sehat. Lebih lanjut dokter mengatakan bahwa kista yang ditemukan pada masa kehamilan belum tentu membahayakan, bahkan bisa pecah dengan sendirinya. Jika kista membesar dan membahayakan tindakan yang harus diambil adalah operasi.

Meski sudah mendengar penjelasan dokter tersebut, rasa khawatir pun tetap menghinggapi perasaan Shinta dan suaminya. Tetapi menuruti anjuran dokter, Shinta pun sangat menjaga makanannya, menghindari makanan berlemak dan perbanyak makan sayuran seperti tomat, brokoli, dan sebagainya.

Bulan berikutnya, ketika kontrol dokter USG pun dilakukan untuk mengontrol janin dan kista yang bersarang di ovarium, dan kista masih ada tetapi ukurannya mengecil, hanya 5 cm. Pada kontrol ke tiga, tepatnya ketika usia kandungan sudah memasuki 16 minggu, dokter melakukan USG kembali dan hasilnya sangat membahagiakan, bahwa kista sudah hilang dan bayi dalam kandungan pun tumbuh dengan normal.

Jadi kesimpulannya, bagi ibu hamil yang memiliki kista tidak perlu panik dan khawatir berlebihan, karena mental sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Kista tidak selalu membahayakan ketika sedang dalam masa kehamilan. Menjaga pola makan sangat penting agar kista bisa hilang dengan sendirinya. Perbanyak makan sayuran saat masa kehamilan akan membuat pertumbuhan janin semakin baik dan kista pun akan hilang dengan sendirinya.

Komplikasi Kista Ovarium Endometriosis

Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat operasi kista ovarium endometriosis antara lain:

  • Infeksi pada bagian sayatan bekas operasi.
  • Pendarahan dalam, karena infeksi.
  • Perut membengkak dan mengeras pada bagian bawah.
  • Rusaknya jaringan ovarium, dan organ lainnya.
  • Terjadi keputihan yang menimbulkan bau menyengat dan tak sedap.

Pencegahan Kista Ovarium Endometriosis

Karena secara pasti tak diketahui penyebabnya, tetapi banyak faktor yang dipercaya yang membuat kista ovarium tumbuh. Beberapa langkah untuk melakukan pencegahan kista ovarium antara lain:

  • Hindari makanan junk food dan makanan olahan yang menggunakan MSG secara berlebih.
  • Lakukan diet sehat agar tidak terjadi obesitas.
  • Olaharaga secara teratur agar kondisi fisik tetap terjaga.
  • Hindari polusi asap rokok.
  • Perbanyak makan sayuran kecuali kangkung, dan obat-obatan herbal seperti rebusan kunir, daun sirsak, dan sebagainya.

Labels:

pengalaman operasi kanker ovarium, Pengalaman sembuh dari kista endometriosis

Related posts:

  1. Pengalaman Operasi Kanker Ovarium
  2. Pengalaman Operasi Kista Ginjal
  3. Pengalaman Operasi Angkat Rahim : Operasi Pengangkatan Rahim – Histerektomi
  4. Pengalaman Operasi Miom
  5. Pengalaman Operasi Ganglion
Gratis Jasa Konsultasi Asuransi Gratis Secara Online Jakarta Jabodetabek Indonesia

Related Posts